Nvidia dan SK Hynix Umumkan Rencana Kerja Sama, Jensen Huang Peringatkan Krisis Chip Berlarut
Baca dalam 60 detik
- CEO Nvidia Jensen Huang memperkirakan kelangkaan pasokan chip memori akan berlangsung beberapa tahun ke depan, mendorong kerja sama strategis dengan SK Hynix.
- Nvidia dan SK Hynix akan mengumumkan rencana kolaborasi pada Senin (8/6) di Seoul, mencakup AI, CPU, PC, dan robotika.
- Krisis chip global berdampak pada rantai pasok elektronik Indonesia, memperpanjang tekanan pada industri otomotif dan gadget dalam negeri.
Kelangkaan chip memori global diprediksi belum akan berakhir dalam waktu dekat. CEO Nvidia, Jensen Huang, menyatakan bahwa tekanan pasokan akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan, seiring melonjaknya permintaan di berbagai sektor. Pernyataan itu disampaikan di tengah rencana pengumuman kerja sama strategis antara Nvidia dan raksasa semikonduktor asal Korea Selatan, SK Hynix, yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (8/6) di Seoul.
Huang, yang tengah berada di Korea Selatan untuk bertemu dengan Ketua SK Group Chey Tae-won dan CEO SK Hynix Kwak Noh-jung, mengungkapkan bahwa hampir seluruh mata rantai pasok industri chip—dari wafer hingga kemasan dan silikon fotonik—mengalami kekurangan. “Permintaan sangat tinggi, dan situasi ini akan bertahan selama beberapa tahun,” ujarnya kepada wartawan di sela pertemuan di sebuah restoran ayam goreng dan bir di Seoul.
Rencana kerja sama ini dipandang sebagai langkah strategis untuk mengamankan pasokan chip memori, terutama HBM (High Bandwidth Memory) yang menjadi komponen krusial dalam akselerator AI buatan Nvidia. SK Hynix selama ini menjadi pemasok utama HBM untuk Nvidia, dan kolaborasi yang lebih erat diyakini akan memperkuat posisi keduanya di tengah persaingan ketat dengan produsen chip lain seperti Samsung dan Micron.
Bagi Indonesia, krisis chip global yang berkepanjangan memiliki dampak langsung. Industri otomotif dalam negeri, yang sangat bergantung pada impor semikonduktor, masih merasakan tekanan. Beberapa pabrikan mobil terpaksa memangkas produksi karena kekurangan chip. Sektor elektronik konsumen, termasuk produksi ponsel pintar dan laptop, juga terhambat. Pengumuman kerja sama Nvidia-SK Hynix setidaknya memberikan secercah harapan bahwa rantai pasok global akan mulai membaik, meski tidak dalam waktu singkat.
Huang menegaskan bahwa Nvidia tidak hanya fokus pada AI, tetapi juga merambah ke CPU, PC generasi baru, dan robotika. “Kami bekerja di banyak industri. Kami di sini untuk merencanakan, dan mungkin besok kami akan membuat beberapa pengumuman,” katanya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kerja sama dengan SK Hynix akan mencakup spektrum yang luas, tidak terbatas pada memori untuk AI.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana kerja sama ini mampu meredam krisis chip global. Apakah langkah Nvidia dan SK Hynix akan diikuti oleh pemain lain? Atau justru persaingan semakin ketat? Yang jelas, Indonesia perlu mengantisipasi dampak jangka panjang dengan memperkuat industri semikonduktor nasional dan diversifikasi sumber pasokan.



