Konflik Timur Tengah Dorong Gelombang Kebangkrutan Maskapai, Harga Tiket Tak Kunjung Turun
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan harga avtur akibat perang di Timur Tengah memicu kebangkrutan dan konsolidasi di industri penerbangan global, dengan maskapai berbiaya rendah menjadi yang paling terpukul.
- Willie Walsh, kepala IATA, memperkirakan lebih banyak maskapai akan gulung tikar atau diakuisisi, sementara harga tiket pesawat diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat.
- Meskipun tekanan finansial meningkat, model maskapai berbiaya rendah dinilai masih bertahan di luar AS, dan produsen pesawat China Comac diprediksi menjadi pesaing baru dalam 10-15 tahun.
Melonjaknya harga bahan bakar jet akibat konflik di Timur Tengah diprediksi akan memicu gelombang kebangkrutan dan konsolidasi di industri penerbangan global sepanjang tahun ini dan tahun depan. Pernyataan itu disampaikan oleh Direktur Jenderal International Air Transport Association (IATA), Willie Walsh, dalam pertemuan tahunan IATA di Rio de Janeiro.
Walsh menjelaskan bahwa perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah mengganggu pasokan avtur dan memaksa maskapai mengambil rute memutar yang lebih mahal. Kondisi ini paling berat dirasakan oleh maskapai berbiaya rendah yang tidak memiliki pendapatan tambahan dari kabin premium, penumpang kelas atas, atau program loyalitas kartu kredit. "Sayangnya, saya pikir akan ada beberapa maskapai yang kesulitan bertahan dengan harga bahan bakar setinggi ini," ujar Walsh kepada Reuters.
Tekanan sudah mulai terlihat. Maskapai berbiaya rendah asal Amerika Serikat, Spirit Airlines, dinyatakan bangkrut bulan lalu. Walsh meyakini Spirit bukanlah yang terakhir. Ia memperkirakan akan ada maskapai yang tutup dan lainnya yang diakuisisi oleh pemain yang lebih besar. Untuk melindungi margin, maskapai juga diprediksi akan memangkas rute yang tidak menguntungkan, sementara harga tiket yang sudah melonjak sejak pecahnya perang dengan Iran kemungkinan besar tidak akan turun dalam waktu dekat.
Meskipun tekanan finansial meningkat, Walsh menilai model maskapai berbiaya rendah tidak akan runtuh. Di luar Amerika Serikat, model ini masih berkembang pesat. Ia mencontohkan Ryanair di Eropa yang tetap menunjukkan kinerja kuat. "Saya tidak melihat model berbiaya rendah rusak; justru sebaliknya," katanya. Namun, di AS, tiga maskapai besar—United Airlines, Delta Air Lines, dan American Airlines—semakin mendesak kompetitor berbiaya rendah.
Satu langkah konsolidasi besar yang tidak akan terjadi, menurut Walsh, adalah rencana United Airlines mengakuisisi American Airlines. Ide yang sempat dilontarkan CEO United, Scott Kirby, kepada Presiden Donald Trump itu dinilai akan menghadapi hambatan regulasi yang sangat berat. "Saya tidak tahu apakah itu upaya sungguhan untuk konsolidasi atau sekadar ingin memicu perhatian media," ujar Walsh.
Konflik Iran juga mengubah arus lalu lintas melalui hub Timur Tengah seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, menimbulkan tantangan akut bagi maskapai Teluk seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad. Walsh optimistis kawasan itu tidak akan mengalami kerusakan permanen sebagai hub penerbangan karena posisi geografisnya yang strategis. "Kapasitas itu tidak bisa digantikan oleh maskapai dari kawasan lain. Setelah situasi tenang, saya perkirakan maskapai Teluk akan kembali merebut posisi penting mereka di pasar," ujarnya.
Selain harga bahan bakar, industri penerbangan juga dirundung lambatnya pengiriman pesawat dari Boeing dan Airbus, serta keterlambatan mesin dari GE Aerospace dan Pratt & Whitney. Walsh mengungkapkan kekesalan industri karena produsen mesin mencatat laba besar sementara maskapai merugi. "Kami kecewa karena mereka tidak bergerak lebih cepat dan tidak berbagi beban yang dialami maskapai," katanya. Gangguan rantai pasok diperkirakan merugikan maskapai sekitar US$11 miliar tahun lalu.
Dalam jangka panjang, Walsh melihat persaingan baru akan muncul dari China. Produsen pesawat Comac tengah mengembangkan pesawat untuk menyaingi Boeing dan Airbus, meski masih menghadapi hambatan sertifikasi di Eropa dan AS serta ketergantungan pada mesin dan avionik Barat. "Mungkin 10 hingga 15 tahun dari sekarang, orang tidak hanya akan membicarakan Airbus dan Boeing, tetapi juga Comac," ujarnya.
Bagi Indonesia, lonjakan harga tiket pesawat dan potensi kebangkrutan maskapai asing dapat berdampak pada konektivitas dan harga tiket domestik. Maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Lion Air perlu mewaspadai tekanan biaya operasional, sementara konsumen harus bersiap dengan tarif yang tetap tinggi. Pertanyaan besarnya: akankah maskapai Indonesia mampu bertahan di tengah badai ini, atau justru akan menjadi sasaran konsolidasi pemain global?