Shein Bidik Valuasi Rp480-640 Triliun di IPO Hong Kong, Turun Drastis dari Puncaknya
Baca dalam 60 detik
- Raksasa fast-fashion asal China menargetkan valuasi US$30-40 miliar dalam penawaran umum perdana di Hong Kong yang dijadwalkan pada Agustus ini.
- Angka tersebut anjlok lebih dari 60% dibanding valuasi puncak US$98,2 miliar pada 2022, mencerminkan tekanan bisnis dan regulasi yang semakin ketat.
- IPO ini menjadi ujian sentimen pasar terhadap sektor e-commerce global, sekaligus sinyal bagi perusahaan rintisan lain yang berencana melantai di bursa Asia.

Shein, raksasa ritel mode asal China, dikabarkan tengah mengincar valuasi antara US$30 miliar hingga US$40 miliar dalam rencana penawaran umum perdana (IPO) di Bursa Hong Kong. Menurut tiga sumber yang mengetahui rencana tersebut, perusahaan berencana meluncurkan IPO secepatnya pada pertengahan Agustus ini, dengan pertemuan dengan calon investor yang sudah dimulai sejak pekan lalu.
Angka valuasi tersebut merupakan penurunan tajam dibandingkan valuasi perusahaan saat putaran pendanaan terakhir pada April 2024 yang mencapai US$64 miliar, dan jauh di bawah puncak valuasi US$98,2 miliar pada 2022. Penurunan ini mencerminkan meningkatnya tantangan bisnis yang dihadapi Shein, termasuk tekanan regulasi di berbagai negara, kekhawatiran atas praktik ketenagakerjaan, serta persaingan ketat di pasar mode global.
Rencana IPO ini bukan tanpa hambatan. Jadwal peluncuran dan valuasi akhir masih dapat berubah setelah mendapatkan masukan dari pertemuan dengan investor. Para sumber yang enggan disebut namanya menekankan bahwa rencana tersebut bersifat rahasia dan belum final. Shein sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar dari Reuters.
Bagi pasar Indonesia, langkah Shein ini menjadi sinyal penting. Sebagai salah satu pemain utama di segmen fast-fashion yang juga merambah pasar Asia Tenggara, keputusan Shein untuk melantai di Hong Kong dengan valuasi yang lebih realistis menunjukkan bahwa era pertumbuhan tanpa batas di sektor e-commerce telah berakhir. Investor kini lebih cermat menilai fundamental bisnis, termasuk kepatuhan terhadap regulasi dan keberlanjutan model usaha.
Penurunan valuasi yang signifikan ini juga menjadi cermin bagi perusahaan rintisan lain yang berencana melantai di bursa. Menurut analis pasar, keputusan Shein untuk menurunkan ekspektasi valuasi merupakan langkah pragmatis untuk menarik minat investor di tengah kondisi pasar yang lesu. โShein menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi tidak lagi cukup; investor menginginkan profitabilitas dan tata kelola yang baik,โ ujar seorang analis yang enggan disebut namanya.
Di sisi lain, IPO ini akan menjadi ujian bagi pasar modal Hong Kong yang tengah berupaya memulihkan diri setelah beberapa tahun lesu. Keberhasilan Shein dalam menggalang dana dapat membuka jalan bagi perusahaan teknologi dan e-commerce lain untuk mengikuti jejaknya. Namun, jika valuasi akhirnya lebih rendah dari target, hal itu bisa menjadi sinyal negatif bagi sentimen pasar secara keseluruhan.
Bagi konsumen Indonesia, perkembangan ini mungkin tidak langsung terasa. Namun, jika Shein berhasil melantai dan mendapatkan dana segar, perusahaan dapat memperluas operasinya di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang merupakan pasar potensial besar. Pertanyaannya, apakah Shein akan mampu menjaga daya saingnya di tengah regulasi yang semakin ketat dan perubahan preferensi konsumen yang mengutamakan keberlanjutan? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi langkah Shein kali ini menjadi penanda bahwa industri fast-fashion global sedang memasuki babak baru yang lebih hati-hati dan terukur.



