Wall Street Mendekati Rekor: Harga Minyak Turun Meredakan Tekanan Inflasi
Baca dalam 60 detik
- Indeks S&P 500 melonjak 1,5% dan hanya berjarak 0,1% dari rekor tertingginya setelah harga minyak mentah Brent merosot 4,7%.
- Penurunan harga minyak dipicu keputusan AS menahan diri dari serangan baru ke Iran, meredakan kekhawatiran gangguan pasokan global.
- Lonjakan laba emiten dan data manufaktur yang kuat menjadi pendorong tambahan, namun volatilitas saham teknologi akibat AI masih membayangi.

Bursa saham Amerika Serikat kembali menguat tajam pada awal pekan ini, membawa indeks S&P 500 mendekati rekor tertingginya setelah harga minyak mentah dunia anjlok dan meredakan kekhawatiran inflasi yang selama ini membebani pasar. Indeks acuan tersebut melonjak 1,5% dan kini hanya berjarak tipis 0,1% dari rekor penutupan yang dicapai pada awal musim panas lalu.
Penguatan ini terjadi setelah harga minyak mentah jenis Brent merosot 4,7% menjadi 83,77 dolar AS per barel. Penurunan tajam ini dipicu pernyataan Presiden Donald Trump yang memutuskan untuk menunda serangan baru terhadap Iran atas desakan sekutu di kawasan. Sebelumnya, harga minyak sempat berfluktuasi liar antara 72 dan 102 dolar AS per barel sepanjang Juli seiring ketidakpastian perang dengan Iran yang mengancam kelancaran pengiriman minyak dari Teluk Persia.
Ketenangan di pasar minyak langsung berdampak pada imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield obligasi 10 tahun turun ke 4,68% dari 4,75% pada Jumat lalu, meski masih jauh di atas level sebelum perang, yakni 3,97%. Penurunan imbal hasil ini menjadi angin segar bagi pasar saham karena mengurangi tekanan pada valuasi dan biaya pinjaman.
Di sisi lain, musim laporan keuangan kuartal kedua yang sedang berlangsung memberikan dorongan tambahan. Berdasarkan data FactSet, perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan mencatatkan pertumbuhan laba per saham hingga 47% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jika terealisasi, ini menjadi pertumbuhan terkuat sejak musim semi 2021 saat ekonomi AS pulih dari pandemi COVID-19. Laporan manufaktur yang menunjukkan akselerasi pertumbuhan tercepat sejak 2022 juga menambah optimisme pelaku pasar.
Sektor yang paling diuntungkan dari penurunan harga minyak adalah maskapai penerbangan dan perusahaan dengan biaya bahan bakar besar. United Airlines melonjak 5,8%, American Airlines naik 5%, dan Norwegian Cruise Line Holdings menguat 6,6%. Saham Boeing juga melompat 8% setelah regulator AS memberikan sertifikasi untuk pesawat 737 MAX-7, membuka jalan bagi layanan komersial. Sementara itu, Tyson Foods naik 2,8% setelah melaporkan laba musim semi yang sedikit lebih baik dari perkiraan analis.
Namun, di balik euforia tersebut, volatilitas saham perusahaan semikonduktor masih menjadi perhatian. Saham-saham chip terus berfluktuasi tajam dalam beberapa pekan terakhir karena investor mempertanyakan keberlanjutan pendapatan yang melonjak akibat ledakan kecerdasan buatan (AI). Jika AI tidak menghasilkan keuntungan dan produktivitas sesuai harapan, perusahaan teknologi besar bisa mengurangi belanja besar-besaran untuk pusat data yang selama ini mendorong harga saham chip ke level yang sangat tinggi. Contohnya, Micron Technology sempat turun 6,4% sebelum akhirnya ditutup menguat 0,8%, meski masih naik sekitar 190% sepanjang tahun ini.
Gejolak saham AI juga terasa di Asia, terutama di Korea Selatan. Indeks Kospi anjlok 5,1% pada Senin, setelah sehari sebelumnya melonjak 17,9% yang merupakan kenaikan harian terbesar dalam sejarah. Pasar Korea sangat terkonsentrasi pada dua raksasa teknologi, Samsung Electronics dan SK Hynix. Sementara itu, Nikkei 225 di Jepang turun 0,9% setelah AS dan Jepang mengonfirmasi intervensi bersama untuk menopang nilai yen terhadap dolar. Penguatan yen memang membantu mengendalikan inflasi di Jepang, tetapi berisiko menekan daya saing eksportir.
Bagi Indonesia, pergerakan pasar saham AS dan harga minyak dunia memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Penurunan harga minyak dapat membantu menekan biaya impor energi dan meredakan tekanan inflasi di dalam negeri, yang pada akhirnya mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, ketidakpastian global, terutama volatilitas saham teknologi dan potensi perlambatan ekonomi AS, tetap menjadi risiko yang perlu dicermati. Investor domestik juga perlu mewaspadai dampak tidak langsung dari perubahan kebijakan moneter AS terhadap arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah reli ini dapat bertahan mengingat tensi geopolitik yang masih belum mereda dan valuasi saham yang sudah tinggi. Pasar akan mencermati data inflasi AS yang akan dirilis dalam pekan-pekan mendatang serta perkembangan konflik di Timur Tengah. Jika harga minyak terus turun dan laba perusahaan tetap kuat, bukan tidak mungkin S&P 500 menembus rekor baru. Namun, jika kekhawatiran AI kembali memuncak atau ketegangan geopolitik meningkat, reli ini bisa saja berbalik arah secepat kilat.



