Kapitalisasi Pasar Kripto Anjlok ke $2,1 Triliun, Likuidasi Paksa Berantai Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Pasar kripto kehilangan kapitalisasi hingga $2,1 triliun dalam 24 jam akibat gelombang likuidasi paksa yang memicu aksi jual berantai.
- Lebih dari $333 juta posisi Bitcoin dilikuidasi, dengan dominasi posisi long yang mencapai $217 juta, menandai peristiwa deleveraging klasik.
- Arus keluar ETF Bitcoin spot AS sebesar $1,72 miliar pekan lalu dan kekhawatiran penundaan pemangkasan suku bunga Fed menekan sentimen pasar.

Kapitalisasi pasar aset kripto ambles ke level $2,1 triliun dalam 24 jam terakhir, tertekan oleh gelombang likuidasi paksa yang memicu aksi jual berantai. Peristiwa ini menjadi yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir dan langsung menghapus keuntungan yang sempat terbangun sejak awal tahun.
Data pasar menunjukkan lebih dari $333 juta posisi Bitcoin dilikuidasi dalam sehari, dengan porsi long mencapai $217 juta. Likuidasi ini menciptakan lingkaran setan: harga jatuh memicu margin call, yang kemudian memaksa lebih banyak posisi ditutup, sehingga tekanan jual semakin deras. Ethereum, Binance Coin, XRP, dan altcoin utama lainnya ikut terseret ke zona merah.
Fenomena ini oleh analis disebut sebagai peristiwa deleveraging klasik. Selama beberapa pekan terakhir, leverage di pasar kripto menumpuk tinggi, dan kini sedang dilucuti secara paksa. Total open interest tercatat $395,9 miliar, dan selama belum ada penurunan signifikan serta funding rate kembali positif, tekanan likuidasi diperkirakan masih berlanjut.
Dari sisi fundamental, arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot AS mencapai $1,72 miliar untuk pekan yang berakhir 5 Juni, menurut laporan DeepWhale. Ini menandakan investor institusi mulai menarik diri, menghilangkan salah satu sumber daya beli utama. Ditambah lagi, kekhawatiran bahwa data tenaga kerja AS yang kuat dapat menunda pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve semakin memperketat likuiditas aset berisiko, termasuk kripto.
Menariknya, korelasi pasar kripto dengan emas saat ini mencapai 55%, mengindikasikan bahwa investor memperlakukan kedua aset sebagai lindung nilai terhadap potensi inflasi atau ketidakstabilan ekonomi. Namun, dalam jangka pendek, aksi jual kripto justru lebih agresif karena sifatnya yang lebih volatil.
Bagi pasar Indonesia, kondisi ini menjadi pengingat akan risiko tinggi yang melekat pada aset kripto. Meskipun regulasi di Tanah Air semakin ketat melalui Bappebti dan OJK, volatilitas global tetap menjadi faktor eksternal yang sulit dihindari. Investor ritel Indonesia yang banyak bermain dengan leverage perlu waspada terhadap potensi likuidasi berantai serupa.
Level $2,1 triliun kini menjadi support kritis yang sejajar dengan titik terendah tahun ini. Jika bertahan, aksi bargain hunting bisa muncul. Namun, jika jebol, target berikutnya ada di kisaran $1,9 triliun. Sinyal pemulihan jangka pendek baru akan terlihat jika kapitalisasi mampu kembali ke atas $2,23 triliun.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada IPO SpaceX pada 12 Juni yang berpotensi mengalihkan modal berisiko dari kripto. Selain itu, stabilitas arus ETF dan perubahan sentimen makroekonomi akan menjadi penentu arah pasar selanjutnya. Apakah koreksi ini hanya pembersihan leverage sementara, atau awal dari tren bearish yang lebih panjang?



