Visa AS Bermasalah, Timnas Iran Berangkat ke Piala Dunia Tanpa Sejumlah Pejabat
Baca dalam 60 detik
- Iran memberangkatkan skuad Piala Dunia ke Meksiko, namun 14 ofisial termasuk sekjen federasi belum mengantongi visa AS untuk pertandingan di California dan Seattle.
- Federasi Sepak Bola Iran menuduh AS melakukan diskriminasi politik dengan menolak visa pejabat kunci, dan berencana mengadukan masalah ini ke FIFA.
- Ketegangan diplomatik antara Teheran dan Washington kembali mencuat di tengah turnamen global, dengan potensi bentrok kedua tim di babak 32 besar.

Tim nasional sepak bola Iran akhirnya bertolak dari Turki menuju pusat latihan di Meksiko pada Sabtu (7/6), meskipun sejumlah pejabat penting federasi masih belum mendapatkan visa Amerika Serikat untuk tiga pertandingan fase grup yang akan digelar di Los Angeles dan Seattle akhir bulan ini.
Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola Iran, Hedayat Mombeini, dan wakil presiden Mehdi Mohammad Nabi termasuk dalam 14 staf belakang layar serta ofisial yang belum memperoleh izin masuk ke AS, demikian dilaporkan televisi pemerintah Iran. Nasib Presiden Federasi Mehdi Taj pun masih belum jelas apakah visanya sudah disetujui.
Masalah visa ini bukan pertama kali menghantui partisipasi Iran di Piala Dunia 2026. Sebelumnya, tim terpaksa memindahkan basis latihan dari Tucson, Arizona, ke Tijuana, Meksiko, yang berbatasan langsung dengan California, karena keterlambatan pemrosesan visa. Federasi Iran mengecam tindakan AS sebagai "perilaku pendendam" yang menghalangi anggota manajerial dan administratif kunci untuk mendampingi tim.
Dalam pernyataan resmi di situs federasi, Iran menegaskan bahwa penolakan visa telah "secara efektif menghilangkan kesempatan tim nasional Iran untuk mendapatkan lapangan bermain yang setara dan kompetisi yang bebas dari diskriminasi." Federasi berjanji akan membawa masalah ini ke FIFA, badan sepak bola dunia. Kedutaan Besar Iran di Ankara juga menyerang balik unggahan Duta Besar AS Tom Barrack yang memuji stafnya karena memproses visa tim Iran. "Anda tidak bisa menutupi pelanggaran regulasi FIFA dan kewajiban tuan rumah Amerika Serikat hanya dengan memuji diri sendiri," tulis akun kedutaan. "Ini adalah bentuk terburuk dari campur tangan politik yang bias dalam olahraga."
Dari pihak AS, seorang pejabat yang berbicara dengan syarat anonim mengungkapkan bahwa semua pemain Iran telah disetujui visanya, sementara pejabat lain mengatakan visa telah diterbitkan untuk pemain, pelatih, dan sebagian staf pendukung. Namun, pejabat ketiga mengklaim bahwa beberapa pemohon yang terkait dengan tim ditolak karena mengajukan visa "dengan alasan palsu." Pernyataan yang saling bertolak belakang ini semakin memperkeruh suasana menjelang turnamen.
Iran sendiri sudah memastikan visa dari Kedutaan Besar Meksiko di Ankara, sehingga para pemain bisa terbang langsung ke Meksiko dengan jet pribadi dari Antalya. Skuad yang mengenakan blazer biru di atas kaus putih itu meninggalkan hotel mewah Mardan Palace pada Sabtu sore. Tim telah dipersiapkan di kamp latihan Antalya sejak beberapa pekan terakhir.
Jadwal Iran di Grup B cukup berat: melawan Selandia Baru pada 15 Juni, Belgia enam hari kemudian, dan ditutup melawan Mesir di Seattle pada 26 Juni. Jika kedua tim finis sebagai runner-up grup, Iran dan AS bisa bertemu di babak 32 besar pada 3 Juli di Arlington, Texas. Potensi duel ini tentu akan sarat muatan politik, mengingat ketegangan kedua negara yang sudah berlangsung lama.
Kontroversi seputar partisipasi Iran sebenarnya sudah bergulir sejak Maret lalu, ketika Presiden AS Donald Trump menyarankan Iran untuk tidak ikut serta dengan alasan "keamanan dan keselamatan" pemain. Timnas Iran langsung membalas bahwa "tidak ada yang bisa mengecualikan" mereka dari turnamen. Ditambah lagi, Iran baru mengumumkan skuad final pada Senin lalu, yang mencakup 17 pemain dari liga domestik yang klubnya tidak bertanding sejak Februari akibat perang. Bintang depan Sardar Azmoun dicoret pada Maret karena unggahan media sosial yang dianggap memicu kemarahan otoritas Iran.
Menteri Olahraga Iran sempat menyatakan pada Maret bahwa "tidak mungkin" tim bisa berpartisipasi, namun federasi pada Mei memastikan tetap maju. Federasi juga bersikeras bahwa semua pemain dan staf, termasuk mereka yang pernah bertugas di Korps Garda Revolusi Islam, harus mendapat visa. Kini, dengan masih adanya ofisial yang tertinggal, pertanyaan besarnya adalah: akankah FIFA turun tangan, atau justru politik kembali mendominasi panggung sepak bola dunia?

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8158982/original/008826800_1781013318-20260609AA_Timnas_Indonesia_vs_Mozambik-09.JPG)