Mbappe Berburu Rekor Klose di Piala Dunia 2026, Sesali Italia Absen
Baca dalam 60 detik
- Kylian Mbappe mengaku sedih Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026, meski format 48 tim membuka peluang bagi negara kecil.
- Penyerang Real Madrid itu membidik rekor gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia milik Miroslav Klose (16 gol) dan rekor nasional Perancis.
- Turnamen di Amerika Utara ini menjadi ajang pembuktian Mbappe sebagai kapten baru Perancis dan momentum emas bagi sepak bola global.

Kylian Mbappe mengawali petualangan Piala Dunia 2026 dengan beban sejarah di pundaknya. Kapten baru timnas Perancis itu tak hanya mengejar rekor gol legendaris Miroslav Klose, tetapi juga menyimpan rasa prihatin mendalam atas ketidakhadiran Italia di turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tersebut.
Dalam konferensi pers jelang keberangkatan skuad Les Bleus ke Amerika Utara, Mbappe meluapkan kekagumannya terhadap Italia. Kedekatannya dengan Negeri Pizza itu terbangun selama membela Paris Saint-Germain, di mana ia bermain bersama Gianluigi Donnarumma, Marco Verratti, dan legenda hidup Gianluigi Buffon. “Saya sangat menyukai Italia. Saya punya banyak teman di sana, dan setiap kali berlibur, saya selalu memilih Italia. Orang-orangnya sangat ramah kepada saya,” ujar Mbappe seperti dikutip TMW. Ia menyesalkan Italia yang gagal lolos untuk kedua kalinya secara beruntun—sebuah pukulan telak bagi negara dengan empat gelar juara dunia.
Format baru Piala Dunia yang diperluas menjadi 48 tim memang menuai pro dan kontra. Di satu sisi, negara-negara kecil seperti Kanada, Panama, atau Selandia Baru mendapat kesempatan bersejarah. Namun di sisi lain, raksasa seperti Italia dan beberapa tim kuat Eropa lainnya harus tersingkir di babak kualifikasi. Mbappe mengakui dilema ini. “Ini peluang luar biasa bagi banyak tim nasional. Tapi saya harus jujur—saya sangat menyesal untuk Italia,” katanya.
Bagi publik Indonesia, Piala Dunia 2026 menyajikan narasi yang menarik. Meski Timnas Garuda belum lolos, turnamen ini menjadi tontonan global yang sarat drama. Kehadiran Mbappe sebagai bintang utama—dengan latar belakang multikultural (ayah Kamerun, ibu Aljazair)—mengingatkan pada semangat keberagaman yang juga dijunjung di Indonesia. Selain itu, format 48 tim membuka pintu bagi lebih banyak negara dari Asia dan Afrika, yang bisa menginspirasi perkembangan sepak bola di kawasan.
Di atas lapangan, Mbappe tidak hanya berburu rekor individu. Ia juga memikul tanggung jawab sebagai kapten setelah pensiunnya Hugo Lloris. Performa Perancis di dua edisi terakhir—juara 2018 dan runner-up 2022—menempatkan mereka sebagai kandidat kuat. Namun, tekanan menjadi favorit seringkali menjadi bumerang, seperti yang dialami Brasil di kandang sendiri pada 2014. “Kami datang untuk menang, bukan sekadar memecahkan rekor,” tegas Mbappe.
Pertanyaan besarnya: akankah Mbappe mampu melampaui Klose dan membawa Perancis kembali ke puncak dunia? Atau justru beban rekor dan ban kapten yang membuat langkahnya tersendat? Piala Dunia 2026 akan segera memberi jawaban.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8163337/original/062235700_1781018081-InShot_20260609_221323602.jpg.jpeg)
