Juara Bertahan Queen's Club Ditolak Wildcard: Tatjana Maria Minta Respect
Baca dalam 60 detik
- Tatjana Maria, juara bertahan turnamen Queen's Club, harus melewati babak kualifikasi setelah panitia memberikan wildcard kepada empat petenis Inggris berperingkat lebih rendah.
- Maria menilai keputusan itu tidak menghormati statusnya sebagai juara bertahan, terutama karena ia baru menjuarai turnamen setahun lalu dan peringkatnya lebih tinggi dari penerima wildcard.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang kebijakan wildcard yang mengutamakan pengembangan petenis lokal versus penghargaan terhadap prestasi juara bertahan.

Tatjana Maria, petenis Jerman yang tahun lalu menjuarai turnamen Queen's Club sebagai pemain kualifikasi, harus kembali menjalani babak kualifikasi pada edisi 2025 setelah panitia memutuskan memberikan seluruh wildcard kepada petenis Inggris. Maria menilai keputusan itu sebagai bentuk kurangnya penghargaan terhadap juara bertahan.
Maria, yang kini berusia 38 tahun, tahun lalu mengalahkan unggulan kedelapan Amanda Anisimova di final setelah melewati babak kualifikasi. Kemenangan itu menandai kembalinya turnamen wanita ke Queen's setelah absen 52 tahun. Namun, tahun ini Maria mendapati dirinya harus memenangi dua pertandingan kualifikasi pada Minggu untuk bisa masuk ke babak utama.
Empat petenis Inggris yang mendapat wildcard adalah Katie Boulter (peringkat 73 dunia), Fran Jones (98), Harriet Dart (160), dan Mika Stojsavljevic (261). Sementara Maria saat ini berada di peringkat 52 dunia, lebih tinggi dari keempatnya. Meski demikian, peringkatnya belum cukup untuk lolos langsung ke babak utama yang hanya menampung 28 pemain.
Dalam wawancara dengan BBC Sport, Maria yang juga anggota kehormatan seumur hidup klub itu mengungkapkan kekecewaannya. "Saya pikir saya pantas mendapat wildcard dan sedikit rasa hormat. Apa yang saya lakukan tahun lalu luar biasa, dan menjadi juara di sini, saya pikir itu sudah seharusnya dipertimbangkan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa ia terkejut saat menerima pesan dari direktur turnamen Laura Robson yang menyatakan semua wildcard akan diberikan kepada pemain Inggris.
Langkah panitia mendapat pembelaan dari Lawn Tennis Association (LTA). Juru bicara LTA menyatakan bahwa mereka memiliki investasi dalam penyelenggaraan turnamen untuk kepentingan tenis Inggris secara keseluruhan. "Kami telah melihat kesuksesan pemain Inggris di ajang ini, dan ada nilai yang jelas dalam memberikan kesempatan pengembangan ini," katanya.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran tentang dilema antara memberikan penghargaan kepada juara bertahan dan mengembangkan bakat lokal. Di tanah air, turnamen seperti Indonesia Terbuka kerap menghadapi situasi serupa, di mana wildcard sering diberikan kepada petenis muda lokal meskipun ada pemain asing berperingkat lebih tinggi yang tidak lolos langsung. Kebijakan semacam itu bisa memicu perdebatan tentang keseimbangan antara prestasi dan pengembangan.
Maria akan menghadapi petenis Yunani Maria Sakkari di babak pertama pada Selasa. Ia berharap bisa mengulangi kejutan tahun lalu, meski harus memulai dari posisi yang tidak ideal. "Saya sudah melakukannya tahun lalu, bukan lima tahun lalu. Sebagai juara, ini berat bagi saya," katanya. Pertanyaan yang muncul: apakah panitia akan mempertimbangkan ulang kebijakan wildcard di masa depan, atau justru mempertahankan fokus pada pengembangan pemain lokal?



