Ajla Tomljanovic Rela Kehilangan Gelar 'Pembunuh Serena' Demi Legenda
Baca dalam 60 detik
- Petenis Australia Ajla Tomljanovic mengaku tidak masalah jika statusnya sebagai pemain terakhir yang mengalahkan Serena Williams dihapus setelah Williams comeback di nomor ganda Queen's Club.
- Tomljanovic mengalahkan Williams dalam tiga set dramatis di US Open 2022, pertandingan yang sempat dianggap sebagai laga perpisahan sang legenda.
- Bagi Tomljanovic, kenangan pertandingan itu lebih berharga daripada catatan sejarah, dan ia justru mendukung keputusan Williams untuk kembali ke lapangan.

Ajla Tomljanovic, petenis Australia yang tercatat sebagai lawan terakhir yang mengalahkan Serena Williams di turnamen resmi, menyatakan tidak keberatan jika gelar itu lenyap setelah Williams memutuskan comeback di nomor ganda Queen's Club pekan ini. Bagi Tomljanovic, momen bersejarah di US Open 2022 lebih bermakna sebagai penghormatan kepada sang legenda ketimbang sebagai catatan pribadi.
Pada 2 September 2022, Arthur Ashe Stadium dipenuhi bintang seperti Billie Jean King, Spike Lee, dan Rebel Wilson. Malam itu, Williams—yang sebelumnya mengumumkan akan 'berevolusi' dari tenis—berlaga melawan Tomljanovic di babak ketiga. Pertandingan berlangsung sengit selama tiga jam lima menit di hadapan hampir 24.000 penonton. Williams menyelamatkan lima match point sebelum akhirnya takluk 7-5, 6-7 (4-7), 6-1.
Kini, hampir tiga tahun kemudian, Williams yang berusia 44 tahun akan kembali ke lapangan rumput Queen's Club untuk bermain ganda bersama Victoria Mboko, petenis Kanada berusia 19 tahun. Keputusan ini secara otomatis mengubah narasi bahwa Tomljanovic adalah pemain terakhir yang mengalahkan Williams. Namun, Tomljanovic justru merasa lega.
"Saya ingat merasa sangat bimbang saat memainkan pertandingan itu, bahkan setelahnya, karena itu adalah akhir bagi seseorang yang sangat saya kagumi," kata Tomljanovic kepada BBC Sport di Indian Wells, Maret lalu. "Saya mengalami pertandingan itu dan menang—itu luar biasa bagi saya. Saya akan selalu mengingat dan menghargainya. Entah bagaimana, saya tidak terlalu peduli dengan buku sejarah yang mungkin tidak lagi mencatat saya sebagai yang terakhir mengalahkannya."
Tomljanovic, yang saat itu berusia 29 tahun, mengaku bahwa pertandingan melawan Williams adalah pengalaman yang tak terlupakan. "Saya ingat betapa stabilnya mental saya dalam pertandingan itu, melawan begitu banyak hal yang tidak bisa dipersiapkan. Saya mungkin tidak akan pernah memainkan pertandingan seperti itu lagi, dan itu sesuatu yang saya hargai karena sangat unik," ujarnya.
Setelah pertandingan, Tomljanovic sempat menyampaikan permintaan maaf kepada penonton yang mendukung Williams. "Saya sangat menyesal karena saya mencintai Serena sama seperti kalian semua. Apa yang telah dia lakukan untuk saya, untuk tenis, sungguh luar biasa. Dia adalah yang terhebat sepanjang masa," katanya saat itu.
Keputusan Williams untuk comeback tidak mengejutkan Tomljanovic. "Saya rasa Serena tidak akan kembali dan puas hanya sampai minggu kedua. Bahkan di US Open terakhirnya, saya pikir dalam pikirannya dia akan memenangkannya. Jadi dia pasti merasakan dorongan energi ekstra," kata Tomljanovic sebelum comeback Williams diumumkan.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah ini mengingatkan pada perjuangan atlet-atlet legendaris yang sulit benar-benar meninggalkan olahraga yang mereka cintai. Comeback Williams juga menjadi pengingat bahwa usia bukanlah halangan untuk kembali berkompetisi, sebagaimana Venus Williams yang masih bermain di usia 45 tahun. Pertanyaan besarnya: akankah Serena mampu bersaing di level tertinggi lagi, atau ini sekadar perpisahan yang tertunda?



