Hoshoryu Pimpin Kontingen Sumo ke Paris: Misi Diplomasi Olahraga Jepang
Baca dalam 60 detik
- Yokozuna Hoshoryu bersama sekitar 130 pegulat dan ofisial sumo terbang ke Paris untuk menggelar turnamen ekshibisi dua hari, menjadi ajang luar negeri pertama sejak London tahun lalu.
- Turnamen ini merupakan yang ketiga kalinya digelar di Paris setelah edisi 1986 dan 1995, menandai upaya Asosiasi Sumo Jepang memperkenalkan olahraga tradisional ke kancah global.
- Hoshoryu, yang baru pulih dari cedera hamstring, mengemban peran sebagai duta olahraga sembari menjaga kondisi fisiknya agar tidak kambuh selama pementasan.

Yokozuna Hoshoryu dan sejumlah pegulat papan atas sumo Jepang bertolak dari Bandara Haneda Tokyo pada Selasa (10/6) menuju Paris untuk ambil bagian dalam turnamen ekshibisi dua hari akhir pekan ini. Keberangkatan ini menjadi misi diplomasi budaya sekaligus ujian bagi olahraga tradisional Negeri Sakura untuk merebut hati publik Eropa.
Kontingen yang dipimpin langsung oleh Ketua Asosiasi Sumo Jepang (JSA) Hakkaku dan ozeki Kirishima ini merupakan rombongan terbesar yang pernah dikirim ke luar negeri sejak ajang serupa di London pada Oktober tahun lalu. Sebanyak 130 orang terbagi dalam dua gelombang, dengan yokozuna Onosato dijadwalkan menyusul pada Rabu (11/6).
Bagi Hoshoryu, perjalanan ini bukan sekadar pameran adu kekuatan. Kepada wartawan sebelum keberangkatan, ia menegaskan tanggung jawabnya sebagai duta olahraga. "Saya ingin menunjukkan apa itu sumo yang sesungguhnya. Saya akan berusaha maksimal," ujar pegulat berusia 27 tahun yang juga keponakan legenda Mongolia, Asashoryu, itu.
Namun, di balik semangat diplomatis, Hoshoryu menyimpan kekhawatiran akan kondisi fisiknya. Ia mundur dari turnamen besar bulan Mei lalu akibat cedera hamstring. "Saya hanya ingin memastikan cedera tidak bertambah parah," katanya, menandakan bahwa performa di Paris tetap harus diimbangi dengan kehati-hatian.
Turnamen ekshibisi yang berlangsung hingga Minggu (15/6) ini menjadi edisi ketiga yang digelar di Paris, setelah sebelumnya sukses pada 1986 dan 1995. JSA tampaknya serius menjadikan Eropa sebagai pasar potensial untuk memperluas basis penggemar sumo di luar Jepang.
Di luar arena, Hoshoryu mengaku antusias menjelajahi Paris untuk pertama kalinya. "Ada begitu banyak tempat yang hanya saya lihat di film. Saya juga tidak sabar mencoba roti yang katanya enak," ujarnya, mencairkan suasana serius persiapan turnamen.
Bagi Indonesia, ekspansi sumo ke Eropa bisa menjadi cermin bagaimana olahraga tradisional dikemas sebagai produk budaya bernilai tinggi. Di dalam negeri, sumo memang belum sepopuler bulu tangkis atau sepak bola, namun kehadiran diaspora Jepang dan komunitas pecinta budaya Jepang yang terus tumbuh membuka peluang bagi promosi serupa. Apakah suatu hari nanti Jakarta atau Bali akan menjadi tuan rumah turnamen sumo? Jawabannya tergantung pada seberapa jauh JSA ingin menjangkau pasar Asia Tenggara setelah Eropa.
Dengan misi ganda—memperkenalkan sumo ke dunia sekaligus memulihkan kepercayaan diri setelah cedera—Hoshoryu dan rombongan membawa harapan besar. Pertanyaan yang tersisa: akankah gebrakan ini mampu mengangkat popularitas sumo di luar Jepang secara berkelanjutan, atau hanya menjadi seremonial belaka?



