Jepang dan Indonesia Sepakati Pembicaraan Ekspor Kapal Perusak Asagiri
Baca dalam 60 detik
- Tokyo dan Jakarta memulai negosiasi tingkat kerja untuk transfer kapal perusak kelas Asagiri, menandai langkah baru kerja sama pertahanan bilateral.
- Kesepakatan ini muncul setelah Jepang melonggarkan aturan ekspor senjata pada April lalu, memungkinkan pengiriman alutsista ke negara mitra keamanan.
- Bagi Indonesia, akuisisi kapal bekas pakai ini dapat memperkuat armada permukaan TNI AL dengan biaya lebih efisien, namun memerlukan kesiapan perawatan dan pelatihan.

Jepang dan Indonesia sepakat memulai pembicaraan tingkat kerja mengenai kemungkinan ekspor kapal perusak kelas Asagiri milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi dan mitranya dari Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, di Tokyo pada Jumat (6/6). Langkah ini menjadi bagian dari strategi Tokyo memperluas kerja sama alutsista dengan negara-negara mitra di kawasan Indo-Pasifik.
Kedua menteri menyetujui penggunaan kerangka kerja tingkat kerja yang dibentuk bulan lalu untuk membahas isu terkait potensi transfer, termasuk pelatihan, perawatan, dan persyaratan operasional. Menurut pernyataan kementerian pertahanan Jepang, Indonesia telah menyatakan minatnya untuk memajukan kerja sama peralatan dan teknologi pertahanan, termasuk kemungkinan pengadaan kapal perusak serbaguna tersebut. Jepang dan Indonesia sendiri telah memiliki perjanjian yang mengatur transfer peralatan pertahanan.
Keputusan ini tidak lepas dari revisi tiga prinsip transfer peralatan dan teknologi pertahanan Jepang yang dilakukan pada April lalu. Aturan yang direvisi memungkinkan Jepang mengekspor senjata, termasuk kapal perusak, ke negara-negara yang telah memiliki perjanjian perlindungan informasi rahasia dan masalah keamanan lainnya dengan Tokyo. Sebelumnya, kebijakan ekspor senjata Jepang sangat ketat karena warisan pasifisme pasca-Perang Dunia II.
Bagi Indonesia, tawaran kapal perusak bekas pakai ini menjadi alternatif pengadaan alutsista yang lebih terjangkau dibandingkan membeli baru. TNI AL saat ini tengah memodernisasi armadanya, termasuk pengadaan fregat dan kapal patroli lepas pantai. Namun, tantangan utama terletak pada kesiapan infrastruktur perawatan dan alih teknologi, mengingat kapal kelas Asagiri memerlukan dukungan logistik yang kompleks. Pengalaman Indonesia dalam mengoperasikan kapal bekas dari berbagai negara, seperti kapal perang eks-DDR, bisa menjadi modal berharga.
Langkah Jepang ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat kerja sama pertahanan dengan negara-negara di Indo-Pasifik di tengah meningkatnya aktivitas militer China di Laut China Selatan dan kawasan sekitarnya. Pada Minggu (8/6), di sela Forum Keamanan Shangri-La di Singapura, Menteri Koizumi dan Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro sepakat mempercepat transfer kapal perusak kelas Abukuma yang sudah pensiun ke Manila. Jepang juga sedang bernegosiasi dengan Selandia Baru untuk mengekspor fregat canggih kelas Mogami, yang bersaing dengan tawaran fregat Type 31 dari Inggris.
Kesepakatan dengan Indonesia ini menandai babak baru dalam hubungan pertahanan bilateral yang sebelumnya lebih banyak berfokus pada dialog dan latihan bersama. Jika terealisasi, transfer kapal perusak akan menjadi yang pertama bagi Jepang ke Indonesia, sekaligus ujian bagi kebijakan ekspor senjata yang baru direvisi. Pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana kesiapan Indonesia dalam mengintegrasikan kapal bekas Jepang ke dalam doktrin operasi TNI AL, serta bagaimana dampaknya terhadap keseimbangan kekuatan maritim di kawasan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8133417/original/067694300_1780985382-Solusi.jpg)