Perang Ukraina Menguji Takhta Putin: Akankah Moskow Berubah dari Dalam?
Baca dalam 60 detik
- Presiden Zelensky menyatakan perang mulai berpihak ke Ukraina, merujuk pada sejarah Rusia yang kerap berubah politik setelah kekalahan militer.
- Meski 62% warga Rusia menginginkan perang berakhir, represi negara dan absennya oposisi membuat perubahan hanya mungkin dari lingkaran dalam Kremlin.
- Jika Putin terus menolak konsesi, elite yang terancam kepentingannya bisa mengambil langkah seperti era Khrushchev—menggulingkan pemimpin dari dalam.

Volodymyr Zelensky, Presiden Ukraina, baru-baru ini menyatakan bahwa momentum perang mulai condong ke pihaknya. Dalam pernyataan yang dikutip media internasional, ia menegaskan Rusia “kehilangan inisiatif setiap hari.” Pernyataan itu muncul setelah Zelensky mengirim surat terbuka kepada Vladimir Putin yang menawarkan negosiasi langsung, dengan kalimat penutup yang menggema: “Ketika Rusia lelah, perubahan datang.”
Klaim tersebut bukan tanpa dasar. Sejarah mencatat, dalam seabad terakhir, Rusia mengalami empat kali pergantian politik besar setelah kekalahan perang atau blunder kebijakan luar negeri. Kekalahan memalukan dari Jepang pada 1905 memicu Revolusi yang membatasi kekuasaan Tsar. Kegagalan di Perang Dunia I membawa Bolshevik berkuasa pada 1917. Krisis Rudal Kuba 1962 membuat Nikita Khrushchev tersingkir. Dan pada 1991, dua tahun setelah menarik pasukan dari Afghanistan, Mikhail Gorbachev menghadapi kudeta yang meruntuhkan Uni Soviet.
Namun, analis menekankan bahwa penghinaan publik di panggung dunia saja tidak cukup. Perubahan membutuhkan penderitaan nyata yang dirasakan masyarakat atau elite politik, serta adanya kesempatan untuk mengorganisir kekuatan. Saat ini, perang Ukraina telah menjadi luka terbuka bagi Kremlin. Target awal invasi—merebut Kyiv dalam hitungan hari—gagal total. Empat tahun kemudian, pasukan Rusia bahkan kesulitan menguasai Donbas. Laju serangan melambat, dan Ukraina justru mengambil inisiatif lewat serangan drone yang menghantam fasilitas minyak Rusia, memicu kelangkaan bensin di sejumlah wilayah.
Meski perang tidak populer, protes massal nyaris tidak ada. Undang-undang represif yang disahkan setelah invasi melarang penyebaran “informasi palsu” tentang militer, dengan ancaman denda dan penjara. Tokoh oposisi seperti Alexei Navalny—yang kini mendekam di penjara—telah dilumpuhkan. Organisasi kritis dicap sebagai “agen asing” atau “organisasi tak diinginkan”, yang membatasi akses mereka terhadap dana dan publikasi. Akibatnya, satu-satunya jalan perubahan adalah dari dalam istana.
Presedennya sudah ada: pada 1964, Khrushchev digulingkan oleh rekan-rekannya sendiri ketika ia kehilangan dukungan institusi kunci. Putin sadar akan bahaya itu. Ia sengaja tidak menunjuk penerus, menjaga faksi-faksi di internal tetap saling curiga, dan memastikan loyalitas dinas intelijen serta keamanan padanya secara pribadi. Namun, jika perang terus berlarut tanpa hasil, elite yang merasa terancam—terutama dari kalangan militer dan oligarki—mungkin menilai bahwa kepentingan mereka lebih baik dijamin tanpa Putin.
Pertanyaan besarnya: seberapa lama Putin bisa bertahan di tengah tekanan perang yang tak kunjung usai? Atau, akankah sejarah kembali berulang di Moskow?



