Rekor Baru di Timnas Senior: Mathew Baker Debut Termuda di Usia 17 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Mathew Baker menjadi debutan termuda Timnas Indonesia senior saat turun melawan Oman, menggeser rekor Arkhan Kaka.
- Pelatih Nova Arianto menilai debut ini menandakan keberhasilan program pembinaan usia muda menembus level senior.
- Baker, pemain Melbourne City, mendapat kepercayaan dari John Herdman dan bermain 10 menit di lini belakang.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7853796/original/052894400_1780677622-20260605AA_Timnas_Indonesia_vs_Oman-1.JPG.jpeg)
Mathew Baker resmi mencatatkan namanya dalam buku sejarah sepak bola Indonesia sebagai pemain termuda yang pernah menjalani debut bersama tim senior Garuda. Bek berusia 17 tahun 23 hari itu diturunkan pada menit ke-80 saat Indonesia membantai Oman 3-0 dalam laga FIFA Matchday di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jumat (5/6/2026) malam.
Kepercayaan yang diberikan pelatih John Herdman kepada Baker menjadi bukti nyata bahwa proses pembinaan talenta muda berjalan sesuai rencana. Nova Arianto, pelatih Timnas U-19 yang juga membina Baker di level junior, mengaku bangga dengan pencapaian anak didiknya. “Tujuan utama kami di kelompok usia adalah mempersiapkan pemain untuk bisa tampil di tim senior. Baker membuktikan bahwa jalur itu berhasil,” ujar Nova kepada media, Sabtu (6/6/2026).
Baker, yang lahir di Melbourne pada 13 Mei 2009, menggantikan kapten Rizky Ridho di posisi bek tengah kiri dalam formasi tiga bek. Ia berduet dengan Elkan Baggott dan Kevin Diks, dua pemain yang jauh lebih senior. Meski hanya bermain sekitar 10 menit, kehadirannya membantu tim mempertahankan keunggulan hingga peluit panjang berbunyi.
Debut ini sekaligus memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh Arkhan Kaka. Penyerang Persis Solo itu tercatat sebagai debutan termuda setelah tampil pada Piala AFF 2024 di usia 17 tahun 3 bulan 7 hari. Kini, rekor tersebut resmi berpindah tangan ke Baker.
Bagi Nova, debut Baker bukan sekadar sukses individu, melainkan cerminan dari sistem pembinaan usia muda yang mulai menunjukkan hasil. “Saya berterima kasih kepada coach John yang telah memberikan kepercayaan kepada Baker. Ini menjadi motivasi bagi pemain muda lainnya bahwa pintu menuju tim senior selalu terbuka,” tambah Nova yang juga sempat menonton pertandingan dari tribun.
Pertandingan melawan Oman sendiri berlangsung dominan. Gol-gol Indonesia tercipta melalui skema serangan yang terstruktur, dan pertahanan yang solid sepanjang laga. Baker masuk saat tim sudah unggul tiga gol, sehingga tekanan tidak terlalu besar. Namun, ketenangannya dalam membaca permainan patut diacungi jempol untuk pemain seusianya.
Keberhasilan Baker menembus tim senior di usia belia membuka optimisme baru bagi regenerasi pemain belakang Indonesia. Dengan postur dan kemampuan yang mumpuni, ia diproyeksikan menjadi andalan lini pertahanan di masa depan. Pertanyaannya, akankah Baker mampu mempertahankan performa dan menjadi pilar tetap di skuad Garuda? Jika konsisten, bukan tidak mungkin ia akan menjadi langganan panggilan timnas untuk ajang-ajang bergengsi selanjutnya.



