Patten Gagal di Final Ganda Putra Prancis Terbuka, Namun Akan Jadi Nomor Satu Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pasangan ganda putra Inggris-Finlandia, Henry Patten dan Harri Heliovaara, takluk di final Prancis Terbuka dari unggulan teratas Granollers/Zeballos.
- Kekalahan ini menunda ambisi Patten menjadi petenis Inggris pertama yang juara ganda putra di Roland Garros era Open.
- Meski kalah, Patten dan Heliovaara dipastikan menduduki peringkat satu dunia ganda putra saat ranking diperbarui pekan depan.

Pasangan ganda putra unggulan kedua, Henry Patten asal Inggris dan Harri Heliovaara dari Finlandia, harus mengakui keunggulan unggulan teratas Marcel Granollers (Spanyol) dan Horacio Zeballos (Argentina) di final Prancis Terbuka, Sabtu (7/6). Dalam pertandingan yang berlangsung satu jam 16 menit di lapangan tanah liat Roland Garros, Patten/Heliovaara kalah telak 6-4, 6-2.
Kekalahan ini memupus harapan Patten untuk menjadi petenis Inggris pertama di era Open yang merebut gelar ganda putra di Paris. Sebelumnya, ia dan Heliovaara telah mengoleksi dua gelar Grand Slam: Wimbledon 2024 dan Australia Terbuka 2025. Mereka juga melaju ke final tanpa kehilangan satu set pun, sebelum akhirnya kandas di partai puncak.
Namun, ada kabar baik bagi pasangan ini. Meski gagal juara, Patten dan Heliovaara dipastikan akan naik ke peringkat satu dunia ganda putra saat peringkat diperbarui pada Senin (9/6). Mereka akan menggantikan rekan senegara Patten, Neal Skupski, yang sebelumnya memuncaki klasemen.
Usai pertandingan, Patten mengakui bahwa performa mereka kurang optimal. "Ini pertama kalinya kami mencapai final Roland Garros, jadi itu hal positif dan sesuatu yang bisa dibanggakan," ujarnya. "Namun, pertandingan tadi mengecewakan. Di ganda, jika Anda sedikit di bawah permainan, Anda bisa terekspos, terutama di tanah liat."
Bagi pecinta tenis Indonesia, prestasi Patten dan Heliovaara patut dicermati. Meski tenis ganda putra jarang mendapat sorotan utama, dominasi pasangan Eropa-Amerika Selatan di level atas menunjukkan betapa kompetitifnya nomor ini. Patten, yang berusia 30 tahun, dan Heliovaara (37) membuktikan bahwa konsistensi dan chemistry dapat mengantarkan mereka ke puncak dunia, meski gagal di final.
Granollers dan Zeballos, yang masing-masing berusia 40 dan 41 tahun, sukses mempertahankan gelar juara bertahan mereka di Prancis Terbuka. Kemenangan ini menegaskan status mereka sebagai salah satu pasangan ganda terbaik sepanjang masa, dengan total koleksi gelar Grand Slam yang terus bertambah.
Ke depan, Patten dan Heliovaara dijadwalkan akan kembali bertanding dalam sepekan ke depan. Dengan status baru sebagai nomor satu dunia, tekanan untuk tampil konsisten akan semakin besar. Mampukah mereka mempertahankan posisi puncak dan merebut gelar Grand Slam ketiga? Atau justru Granollers/Zeballos akan terus mendominasi?