Monako GP: Lima Pembalap Terjaring Pit-Lane Speeding, Ini Penyebabnya
Baca dalam 60 detik
- Lima pembalap terkena penalti pit-lane speeding di GP Monako, semuanya hanya melampaui batas 0,1 km/jam, memicu kontroversi soal metode pengukuran.
- Fenomena ini dipicu oleh kombinasi tata letak pit lane dan sistem timing loop yang memungkinkan jarak tempuh lebih pendek, bukan kecepatan aktual.
- Alpine mengajukan hak peninjauan, namun peluang keberhasilan tipis karena harus menghadirkan bukti baru yang belum tersedia saat penalti dijatuhkan.

Grand Prix Monako yang berlangsung akhir pekan lalu menyisakan kontroversi tak biasa: lima pembalap terkena penalti karena melanggar batas kecepatan pit lane sebesar 60 km/jam. Uniknya, seluruh pelanggaran terjadi dengan margin sangat tipis—hanya 0,1 km/jam di atas ambang batas, kecuali Pierre Gasly yang juga mencatat 0,4 km/jam pada satu kesempatan.
Fenomena ini langsung memicu tanda tanya besar di paddock. Lewis Hamilton, George Russell, Oscar Piastri, Pierre Gasly, dan Franco Colapinto sama-sama mengaku tidak berniat melanggar. Bahkan Hamilton dengan tegas menyatakan bahwa limiter mobilnya aktif sejak memasuki pit lane. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Menurut analisis teknis yang beredar, penyebabnya bukanlah kesalahan pengemudi, melainkan kombinasi antara desain pit lane Monako dan sistem pengukuran yang digunakan. Pit lane di sirkuit jalan raya Monako memiliki garis putih yang menandai jalur cepat, namun ada ruang untuk memotong sedikit garis tersebut. Karena Formula 1 adalah ajang mengejar batas, banyak pembalap memanfaatkan celah ini.
Sistem pengukuran kecepatan di pit lane F1 tidak menggunakan radar atau kamera, melainkan serangkaian timing loop di lintasan yang bekerja sama dengan transponder di mobil. Kecepatan dihitung dari jarak dibagi waktu. Jika seorang pembalap memotong garis putih dan memperpendek jarak tempuh, secara matematis kecepatan yang tercatat bisa lebih tinggi meskipun speedometer mobil menunjukkan angka di bawah batas. Inilah yang diduga terjadi di Monako.
Mercedes, misalnya, telah menginstruksikan pembalapnya untuk mengambil jalur lebih lebar saat masuk pit lane guna menghindari risiko ini. Namun Russell tetap terkena penalti. Sepanjang akhir pekan, masalah ini sudah dibahas antara tim dan FIA, tetapi belum ada solusi konkret.
Dampak penalti ini cukup signifikan. Hamilton berhasil menetralisir hukumannya berkat periode safety car, namun Piastri kehilangan posisi, Gasly gagal naik podium, dan Russell—yang sempat berada di posisi ketiga—pulang tanpa poin setelah Mercedes melakukan kesalahan dalam pit stop saat safety car.
Menanggapi hal ini, Alpine mengajukan permohonan hak peninjauan (right of review), yang pada dasarnya adalah mekanisme banding untuk penalti yang tidak bisa diajukan banding secara normal. Syaratnya berat: tim harus menyajikan bukti baru yang tidak tersedia saat penalti dijatuhkan. Dalam praktiknya, permohonan semacam ini jarang dikabulkan. FIA kerap dianggap enggan mengakui kesalahan, dan jika Alpine menang sekalipun, hanya hasil Gasly yang berubah—membuka potensi protes dari tim lain.
Di luar kontroversi pit lane, performa Kimi Antonelli yang meraih kemenangan kelima beruntun menjadi sorotan. Sementara itu, Charles Leclerc kembali gagal di kandang sendiri setelah kecelakaan saat restart. Pertanyaan soal masa depannya di Ferrari pun mencuat, mengingat tim asal Italia itu belum meraih gelar pembalap sejak 2007.
Ke depan, kasus ini bisa menjadi preseden penting. FIA mungkin perlu mengevaluasi ulang metode pengukuran kecepatan di pit lane, terutama di sirkuit sempit seperti Monako. Apakah sistem timing loop sudah akurat, atau justru menciptakan celah yang merugikan pembalap? Jawabannya akan menentukan arah regulasi teknis di masa mendatang.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8256171/original/040743200_1781149590-WhatsApp_Image_2026-06-11_at_09.35.40.jpeg)


