Charley Hull Kembali Gagal di Major: Kapan Gelar Perdana Itu Datang?
Baca dalam 60 detik
- Charley Hull menempati posisi runner-up US Women's Open 2026, catatan kelima kalinya ia gagal meraih gelar major.
- Pendekatan agresif Hull di akhir pekan nyaris membuahkan hasil, namun Nelly Korda yang lebih pragmatis keluar sebagai juara.
- Konsistensi Hull di turnamen major menunjukkan peluang besar, namun ia perlu belajar dari ketenangan Korda untuk memecah kebuntuan.

Charley Hull kembali harus puas sebagai runner-up di turnamen major untuk kelima kalinya dalam kariernya, setelah finis satu pukulan di belakang Nelly Korda di US Women's Open 2026 yang berlangsung di Riviera Country Club, California, akhir pekan lalu. Meski tampil agresif dan memecahkan rekor akhir pekan, Hull gagal mengangkat trofi karena ketenangan luar biasa dari pegolf nomor satu dunia itu.
Hull, yang berasal dari Kettering, Inggris, memulai putaran ketiga dengan skor 65—terendah sepanjang pekan—dan menutupnya dengan 67 yang sarat adrenalin. Ia membuka putaran final dengan eagle dan birdie di tiga hole pertama. "Saya hanya bermain lepas dan menikmati setiap pukulan," ujar Hull seusai pertandingan. "Di akhir pekan, saya tidak punya apa-apa lagi untuk hilang."
Strategi all-out attack itu memang jarang membuahkan hasil di US Open, namun Hull nyaris membalikkan prediksi. Catatan 132 pukulan di akhir pekan menyamai rekor kejuaraan milik Meg Mallon pada 2004. Perbaikan signifikan terjadi pada permainan putting-nya: setelah total 63 putt di dua putaran pertama, ia hanya membutuhkan 53 putt di dua putaran terakhir—termasuk pukulan krusial sejauh 10 kaki di hole terakhir yang sempat membuatnya memimpin clubhouse.
Namun, Nelly Korda membuktikan diri sebagai juara sejati. Setelah menjalani awal yang sulit—membuka turnamen dengan 73 yang membuatnya ragu—Korda bangkit berkat perubahan grip yang disarankan kakaknya, Jessica. Ia unggul lebih dari tiga pukulan dalam statistik putting dan memimpin kategori scrambling. "Saya hanya fokus satu pukulan dalam satu waktu," kata Korda. "Major championship adalah tentang bertahan dan memanfaatkan celah kecil untuk agresif."
Korda, yang juga memenangkan Chevron Championship pada April lalu, kini memiliki empat kemenangan dan tiga runner-up di musim 2026 yang luar biasa. Pendekatan pragmatisnya—dibantu caddie Jason McDede—menjadi pembeda di tengah tekanan Riviera yang menguji aspek teknis dan mental. Lapangan dengan fairway lengket dan green miring membuat pendekatan bola tinggi milik Korda menjadi keunggulan kunci.
Bagi Hull, kegagalan ini justru menegaskan bahwa gelar major hanya soal waktu. Dalam 11 major terakhir, ia mencatat delapan kali finis di 20 besar, termasuk dua kali runner-up. "Saya suka bermain di major. Jika pekan biasa, saya kadang kesulitan motivasi, tapi di major saya sangat menikmatinya," ujar Hull. Namun, para pengamat menilai Hull perlu mengadopsi sedikit ketenangan ala Korda untuk mengubah agresivitasnya menjadi kemenangan.
Di Indonesia, golf mungkin bukan olahraga utama, namun performa Hull dan Korda memberikan pelajaran berharga tentang dua pendekatan berbeda menuju puncak: agresivitas penuh risiko versus konsistensi penuh perhitungan. Bagi pegolf Tanah Air yang bermimpi menembus panggung internasional, keseimbangan antara kedua gaya itu bisa menjadi kunci. Pertanyaan besarnya: akankah Hull segera mengikuti jejak Korda dengan pidato kemenangan di podium major? Atau akankah ia terus menjadi 'pengantin' yang tak pernah naik pelaminan?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8256171/original/040743200_1781149590-WhatsApp_Image_2026-06-11_at_09.35.40.jpeg)


