Loyalitas Berbuah Tiket Murah: Suporter Inggris Siap ke Piala Dunia Keenam
Baca dalam 60 detik
- Seorang penggemar setia Timnas Inggris akan menghadiri Piala Dunia keenamnya berkat program tiket murah yang menghargai loyalitas.
- Dengan harga tiket final hanya £46, ia menjadi contoh bagaimana dedikasi dapat mengatasi lonjakan biaya tiket turnamen.
- Kisahnya menyoroti ketimpangan akses bagi suporter biasa di tengah komersialisasi Piala Dunia yang kian mahal.

Seorang penggemar setia Timnas Inggris bersiap mencatatkan rekor pribadi dengan menghadiri Piala Dunia keenamnya pada turnamen 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Paul Godfrey, yang juga menjabat sebagai direktur dan sekretaris klub Cheltenham Town FC, akan menyaksikan langsung perjuangan The Three Lions dari tribun penonton—bukan dari lapangan hijau seperti para pemain bintang.
Godfrey telah mengikuti timnas Inggris sejak dekade 1980-an, namun perjalanan internasionalnya dimulai pada awal 2000-an. Dalam wawancara dengan BBC Radio Gloucestershire, ia mengaku telah mengunjungi 138 negara asing berkat hobinya mendukung timnas. “Saya ingin pergi lebih awal, tapi tidak ada teman, jadi saya mulai ke turnamen besar pada 2002 dan terus melakukannya sejak itu,” ujarnya.
Yang membuat kisah Godfrey menarik adalah kemampuannya mendapatkan tiket murah di tengah kontroversi harga tiket Piala Dunia yang dinilai meroket. Jika Inggris lolos ke final, Godfrey hanya perlu membayar sekitar $60 (Rp 960.000)—jauh di bawah harga pasar. Ia mengaku memenuhi syarat tiket murah karena selalu hadir di setiap pertandingan, termasuk laga kualifikasi dan persahabatan. “Saya tidak akan pergi jika harga normal. Loyalitas harus dihargai. Jika Anda bersusah payah ke Wembley malam Jumat yang hujan, Anda pantas mendapat imbalan,” tegasnya.
Namun, tidak semua penggemar senasib. Godfrey mengkhawatirkan banyak rekannya yang memilih tidak datang karena mahalnya tiket, sehingga stadion berisiko diisi oleh penonton yang bukan pecinta sepak bola sejati. “Ada banyak gebyar dan kegembiraan, tetapi ketika Piala Dunia tiba, Anda ingat antusiasme masa kecil—keajaiban negara dan lokasi yang eksotis. Itu tak tertandingi,” katanya.
Godfrey juga harus pintar mengatur logistik. Ia akan menonton pertandingan pembuka di Dallas, lalu terbang pulang ke Inggris, dan kembali lagi ke AS untuk babak gugur. “Kesulitannya, Anda harus merencanakan berbagai kemungkinan berdasarkan perkiraan posisi Inggris. Anda harus berani bertaruh pada kemenangan grup, lalu tahu lokasi pertandingan selanjutnya,” jelasnya. Meski optimistis Inggris bisa lolos sebagai juara grup, ia realistis: “Saya tidak berharap menang. Perempat final sudah bagus. Untuk juara, Anda harus mengalahkan Brasil, Argentina, Jerman, atau Prancis—itu tugas berat.”
Menariknya, Godfrey memanfaatkan turnamen ini untuk bekerja jarak jauh. Ia akan menyulap kamar hotel menjadi kantor sementara untuk mempersiapkan musim 2026-27 Cheltenham Town. “Zona waktu menguntungkan. Saya bisa membalas email saat Eropa tidur, lalu bekerja ketika mereka bangun,” katanya. Ia berharap bisa merekrut beberapa pemain akademi dan tim utama selama di Amerika.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Godfrey menjadi cermin betapa besarnya kesenjangan akses menonton Piala Dunia. Di tengah tiket yang kian mahal, loyalitas menjadi satu-satunya jalan bagi suporter biasa untuk tetap terlibat. Pertanyaannya, akankah FIFA dan penyelenggara turnamen besar mulai memberikan insentif serupa bagi penggemar setia di negara berkembang seperti Indonesia?
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7772005/original/081016500_1780583504-20260604BL_OT_Timnas_Indonesia_Jelang_Vs_Oman_FIFA_Matchday_2026_10.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8080345/original/052219600_1780926306-20260608AA_PMPC_Timnas_Indonesia-5.jpg)
