Skotlandia 1974: Tim Tak Terkalahkan yang Tersingkir karena Selisih Gol
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia menjadi satu-satunya tim tak terkalahkan di Piala Dunia 1974, namun tersingkir di babak grup akibat selisih gol yang kalah dari Brasil dan Yugoslavia.
- Insiden kocak Jimmy Johnstone yang hanyut naik perahu dayung tanpa dayung sempat menghebohkan publik, namun justru menjadi pelecut semangat sebelum mengalahkan Inggris.
- Kegagalan Skotlandia mencetak banyak gol melawan Zaire menjadi penyesalan terbesar, karena jika tidak, mereka bisa lolos ke perempat final.

Piala Dunia 1974 di Jerman Barat selalu identik dengan total football ala Belanda dan megabintang seperti Johan Cruyff. Namun, ada satu kisah unik yang jarang terungkap: Skotlandia menjadi satu-satunya tim yang tidak terkalahkan sepanjang turnamen, tetapi justru tersingkir lebih awal karena selisih gol. Ironi ini menjadikan perjalanan Skotlandia sebagai salah satu catatan paling aneh dalam sejarah Piala Dunia.
Skotlandia, yang lolos ke putaran final untuk pertama kalinya sejak 1958, tergabung di Grup 2 bersama Brasil, Yugoslavia, dan Zaire. Mereka hanya kebobolan satu gol dalam tiga pertandingan, namun kemenangan tipis 2-0 atas Zaire menjadi bumerang. Brasil dan Yugoslavia sama-sama mengoleksi 4 poin, unggul selisih gol berkat kemenangan besar atas Zaire. Skotlandia harus pulang lebih awal meski tak pernah kalah.
Mantan striker Joe Jordan dan gelandang Davie Hay, dua pemain yang tampil di semua laga grup, mengenang kembali kampanye tersebut. Menurut Jordan, kemenangan 2-0 atas Zaire seharusnya bisa lebih besar. โSaat itu kami unggul 2-0 di babak pertama, dan cuaca sangat panas. Kami mengendurkan permainan,โ kata Hay. Jordan menambahkan, โSeharusnya kami mencetak lebih banyak gol. Itu kenaifan. Jika pertandingan itu menjadi laga kedua atau ketiga, mungkin skornya akan berbeda.โ
Persiapan Skotlandia sebelum turnamen juga penuh warna. Manajer Willie Ormond memberi izin pemain untuk berpesta di Largs, dan pemain sayap Jimmy Johnstone nekat mencuri perahu dayung tanpa dayung hingga hanyut ke laut. Rekan setimnya, Hay dan Eric Schaedler, mencoba menyelamatkan dengan perahu bocor, namun akhirnya Johnstone harus ditolong oleh penjaga pantai. Insiden itu menjadi berita utama di media. โKami memberikan respons sempurna dengan mengalahkan Inggris 2-0 pada Sabtu berikutnya,โ kenang Hay. โJimmy tidak mengalahkan Inggris sendirian, tapi dia membantu menghancurkan mereka.โ
Pertandingan melawan Brasil berakhir imbang 0-0, dengan peluang terbaik Skotlandia datang dari sundulan Jordan yang membentur tulang kering kapten Billy Bremner dan melenceng tipis. Hay menilai performa timnya seimbang dan mampu menahan tekanan Brasil. โDalam 10 menit pertama kami sedikit tertekan, tapi setelah itu kami sedikit lebih baik,โ ujarnya. Hasil imbang itu menjadi yang terakhir kalinya Brasil gagal mengalahkan Skotlandia.
Di laga penentu melawan Yugoslavia, Skotlandia tertinggal 1-0 hingga 10 menit akhir, sebelum Jordan menyamakan kedudukan. Hasil imbang 1-1 itu tidak cukup karena Brasil menang 3-0 atas Zaire. Yugoslavia, Brasil, dan Skotlandia finis dengan poin sama, dan tim yang mencetak gol paling sedikit ke gawang Zaire tersingkir. Jordan menyesalkan keputusan Ormond yang tidak memainkan Johnstone di dua laga terakhir. โSatu-satunya yang bisa dilakukan Ormond secara berbeda adalah memainkan Johnstone. Dia tidak bermain satu pun pertandingan. Mungkin karena alasan disiplin. Jika dia dimainkan, mungkin hasilnya berbeda.โ
Brasil dan Yugoslavia akhirnya tersingkir di babak grup kedua, sementara Jerman Barat menjadi juara setelah mengalahkan Belanda 2-1 di final. Skotlandia pulang dengan status tak terkalahkan, namun tanpa tempat di perempat final. Pertanyaan yang tersisa: apakah selisih gol adalah cara yang adil untuk menentukan nasib sebuah tim yang tidak pernah kalah? Ataukah sistem tie-break perlu dievaluasi?


