Arsenal Kian Dekat Rekrut Bakat Muda Leicester, Jeremie Monga
Baca dalam 60 detik
- Arsenal dikabarkan hampir mencapai kesepakatan lisan untuk merekrut pemain sayap remaja Leicester City, Jeremie Monga, yang disebut-sebut memiliki kemiripan gaya dengan Michael Olise.
- Monga, yang baru berusia 17 tahun, telah tampil 27 kali di tim senior Leicester musim lalu dan dianggap sebagai salah satu talenta muda paling cemerlang di Inggris.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi Arsenal untuk memperkuat lini serang, terutama di sisi kiri yang menjadi titik lemah musim lalu, dengan investasi jangka panjang.

Arsenal semakin mendekatkan diri pada perekrutan Jeremie Monga, pemain sayap muda Leicester City yang disebut-sebut sebagai versi baru Michael Olise. Klub asal London Utara itu dikabarkan telah memasuki tahap negosiasi lanjutan dan hampir mencapai kesepakatan lisan dengan sang pemain, yang memilih Arsenal di antara sejumlah klub peminat.
Kabar ini muncul di tengah ambisi besar Arsenal untuk kembali bersaing di papan atas setelah musim lalu gagal mempertahankan gelar Premier League. Manajer Mikel Arteta telah menegaskan perlunya langkah berani di bursa transfer musim panas ini, terutama untuk memperbaiki ketajaman lini depan yang menjadi sorotan sepanjang musim. Ketergantungan pada Bukayo Saka di sisi kanan dan inkonsistensi Gabriel Martinelli serta Leandro Trossard di kiri membuat klub mencari opsi segar.
Monga, yang genap berusia 17 tahun pada April lalu, menjadi salah satu prospek paling menarik di sepak bola Inggris. Meski baru mencatatkan satu gol dan dua assist di Championship musim lalu, penampilannya di 27 pertandingan senior—termasuk tujuh laga Premier League—menunjukkan kematangan di luar usianya. Hanya Ethan Nwaneri dan Max Dowman yang lebih muda darinya saat melakukan debut di Premier League era modern.
Keistimewaan Monga terletak pada kemampuannya yang langka: ia mampu menggunakan kedua kaki dengan sama baiknya, memiliki kecepatan dan dribel lincah yang mengingatkan pada Michael Olise, serta visi bermain yang matang. Pengamat dari Como, Ben Mattinson, bahkan menjulukinya sebagai "Ousmane Dembele versi Inggris" dan menyebutnya sebagai salah satu talenta paling cemerlang di negeri itu. Perbandingan dengan Olise juga dikuatkan oleh laporan GOAL yang menyoroti kemampuannya mengecoh lawan dan menciptakan peluang di momen krusial.
Bagi Arsenal, merekrut Monga bukan sekadar investasi jangka pendek. Dengan Martinelli yang hanya mencetak satu gol musim lalu dan Trossard yang sempat paceklik gol dalam 25 pertandingan beruntun, kebutuhan akan pemain sayap kiri yang tajam sangat mendesak. Namun, Monga tidak diharapkan langsung menjadi starter; ia akan diberi waktu untuk berkembang, dengan jalur menuju tim utama yang terbuka lebar mengingat minimnya pesaing di posisinya dari akademi Hale End.
Keputusan Leicester melepas Monga terbilang wajar setelah degradasi ke League One. Biaya transfer masih belum pasti karena usia pemain yang masih muda, kemungkinan akan ditentukan melalui tribunal. Namun, jika kesepakatan jadi terwujud, Arsenal tidak hanya mendapatkan pemain potensial, tetapi juga aset jangka panjang yang bisa menjadi bintang di masa depan.
Langkah ini juga menarik untuk dicermati dari perspektif sepak bola Indonesia. Dengan semakin banyaknya pemain muda Asia Tenggara yang merambah Eropa—seperti Marselino Ferdinan di Oxford United atau Rafael Struick di ADO Den Haag—kesuksesan pemain seusia Monga di Premier League bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan bakat muda di Tanah Air. Arsenal sendiri dikenal sebagai klub yang memberi kesempatan pada pemain muda, seperti terlihat dari promosi Ethan Nwaneri dan Max Dowman.
Apakah Monga akan menjadi jawaban atas masalah lini serang Arsenal? Ataukah ia hanya akan menjadi bagian dari proyek jangka panjang yang belum tentu membuahkan hasil? Yang jelas, persaingan di bursa transfer musim panas ini semakin menarik untuk diikuti.



