Marjane Satrapi Tutup Usia: Warisan Persepolis yang Mengubah Wajah Iran di Mata Dunia
Baca dalam 60 detik
- Marjane Satrapi, seniman grafis dan pembuat film Iran-Prancis, meninggal pada usia 56 tahun, meninggalkan warisan besar melalui memoar grafis Persepolis.
- Persepolis berhasil memanusiakan rakyat Iran di tengah stereotip global, dengan menggambarkan kehidupan sehari-hari di bawah rezim otoriter dan pengalaman diaspora.
- Karya Satrapi terus relevan bagi generasi eksil Iran dan pembaca global, menjadi peta identitas dan perlawanan di tengah krisis politik.

Marjane Satrapi, seniman grafis dan sineas kelahiran Iran yang namanya melekat melalui memoar grafis Persepolis, meninggal dunia pada usia 56 tahun. Kepergiannya disambut dengan penghormatan luas, termasuk dari Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebutnya sebagai "seniman besar yang mengubah masa kecil Iran menjadi dongeng universal". Satrapi, yang juga seorang aktivis, meninggalkan jejak mendalam dalam dunia komik, film, dan politik identitas diaspora.
Lahir di Rasht pada 1969 dan dibesarkan di Teheran, Satrapi tumbuh di tengah Revolusi Iran dan tahun-tahun penuh gejolak setelahnya. Anggota keluarganya, termasuk pamannya Anoosh, menjadi korban represi politik—ditangkap, dianiaya, dan dieksekusi oleh rezim Republik Islam. Pengalaman pahit ini menjadi fondasi Persepolis, yang pertama kali terbit pada 2000 dan kemudian diperluas menjadi empat volume. Karya ini mengikuti perjalanan hidup Satrapi: dari masa kanak-kanak di Iran, remaja di Wina, hingga perjuangan mencari identitas di antara dua dunia.
Yang membuat Persepolis revolusioner adalah kemampuannya menyajikan Iran secara intim dan manusiawi, jauh dari stereotip yang sering digambarkan media Barat. Melalui ilustrasi hitam-putih yang tampak sederhana, Satrapi menunjukkan bahwa rakyat Iran bukan sekadar subjek geopolitik atau korban otoritarianisme. Mereka memiliki keluarga, persahabatan, humor, bahkan selera fashion yang buruk. Seperti ditulisnya dalam salah satu bagian paling terkenal: "Saya orang Barat di Iran, orang Iran di Barat. Saya tidak punya identitas."
Bagi banyak pembaca di Indonesia, Persepolis juga relevan sebagai cermin bagaimana sebuah bangsa bisa direduksi menjadi narasi tunggal. Indonesia, yang kerap menghadapi generalisasi serupa terkait Islam dan demokrasi, bisa belajar dari cara Satrapi menolak romantisisasi maupun asimilasi total. Ia memilih berdiam di ruang yang tidak nyaman di antara dua kutub—sebuah posisi yang juga akrab bagi para perantau dan eksil dari berbagai negara.
Satrapi tidak pernah mengklaim sebagai satu-satunya suara Iran. Ia justru melihat karyanya sebagai bentuk penerjemahan—menjembatani kesenjangan antara pengalaman pribadi dan pemahaman global. Dalam Persepolis, ia menulis: "Antara fanatisme satu pihak dan penghinaan pihak lain, sulit memilih sisi mana." Sikap kritisnya terhadap represi di Iran dan kemunafikan Barat membuatnya konsisten hingga akhir hayat.
Bagi generasi eksil Iran, Persepolis lebih dari sekadar memoar. Ia menjadi peta—panduan untuk mengingat, menemukan identitas, dan bertahan. Satrapi mengajarkan bahwa martabat bisa menjadi bentuk perlawanan, dan ingatan bisa menjadi tindakan politik di tengah amnesia kolektif. Pertanyaan yang kini menggantung: akankah warisan Satrapi terus menginspirasi perlawanan dan kemanusiaan di tengah krisis yang masih membelit Iran dan diaspora?


