Investasi Saudi di Derby County: Ujian Krusial Regulator Sepak Bola Inggris
Baca dalam 60 detik
- Pejabat Saudi Turki Al-Sheikh berniat membeli saham Derby County, memicu kekhawatiran Amnesty International atas praktik sportswashing.
- Regulator independen sepak bola Inggris (IFR) harus memutuskan apakah menyetujui investasi dari tokoh yang terkait dengan pelanggaran HAM massal.
- Keputusan ini akan menjadi preseden bagi keterlibatan asing di klub Inggris dan berpotensi memperluas jejak investasi Saudi di sepak bola global.

Regulator independen sepak bola Inggris (IFR) menghadapi ujian paling krusial sejak pembentukannya tahun lalu: menyetujui atau menolak investasi pejabat Saudi Turki Al-Sheikh di Derby County, klub Championship yang tengah mencari suntikan dana segar. Amnesty International menilai keputusan ini akan menentukan kredibilitas IFR dalam menjaga integritas sepak bola Inggris.
Al-Sheikh, yang menjabat sebagai Ketua Otoritas Hiburan Umum Saudi dan dikenal sebagai tokoh dekat Putra Mahkota Mohammed bin Salman, bukanlah figur baru di dunia olahraga. Ia sebelumnya memiliki klub Spanyol Almeria (kini dimiliki bersama Cristiano Ronaldo) dan klub Mesir Pyramids FC. Namun, rekam jejaknya di bidang hak asasi manusia menuai kritik tajam. Amnesty mencatat 356 eksekusi mati di Saudi pada tahun lalu—angka tertinggi sepanjang sejarah—serta pelanggaran HAM sistematis terhadap perempuan dan kelompok LGBT.
IFR, yang dibentuk melalui Undang-Undang Regulator Sepak Bola, kini memegang kewenangan penuh untuk menyaring calon pemilik dan direktur klub. Sebelumnya, otoritas ini dipegang oleh English Football League (EFL). Keputusan IFR akan menjadi preseden bagi investasi asing di masa depan, terutama dari negara-negara dengan catatan HAM kontroversial.
Felix Jakens, Kepala Kampanye Amnesty International Inggris, menegaskan bahwa Al-Sheikh bukanlah pengusaha swasta biasa. “Dia adalah perwakilan senior pemerintah yang terlibat langsung dalam pelanggaran HAM massal. Regulator harus bertanya dan menjawab secara transparan,” ujarnya. Amnesty juga mengingatkan bahwa investasi ini akan memperluas jejak Saudi di sepak bola Inggris, setelah Newcastle United diakuisisi oleh Dana Investasi Publik Saudi (PIF) pada 2021.
Di sisi lain, basis penggemar Derby County terbelah. Sebagian menyambut potensi investasi miliaran pound yang bisa membawa klub kembali ke Premier League setelah hampir dua dekade. Namun, sebagian lain merasa tidak nyaman dengan isu etika. Nick Webster, penggemar Derby, menggambarkan situasi ini sebagai “perpecahan yang tak terhindarkan”. “Banyak yang antusias dengan uang yang masuk, tapi ada juga yang peduli pada HAM. Ini membuat banyak orang tidak nyaman,” katanya.
Sam Jones, manajer tinju yang pernah bekerja sama dengan Al-Sheikh, justru optimistis. Ia mencontohkan kesuksesan Al-Sheikh dalam menyelenggarakan pertarungan tinju kelas dunia di Piramida Giza, Mesir, yang menurutnya menunjukkan visi dan ambisi besar. “Jika ia menerapkan seperempat dari usahanya di tinju ke Derby County, para penggemar harus bersemangat,” ujar Jones.
Bagi Indonesia, kasus ini relevan sebagai pengingat akan pentingnya regulasi ketat dalam investasi olahraga. Dengan maraknya minat investor asing di liga-liga Eropa, termasuk dari Timur Tengah, transparansi dan akuntabilitas regulator menjadi kunci. Keputusan IFR akan menjadi tolok ukur apakah sepak bola Inggris mampu menjaga independensinya dari kepentingan politik asing.
Pertanyaan besarnya: akankah IFR berani menolak investasi yang berpotensi menguntungkan secara finansial demi prinsip etika? Atau justru sebaliknya, membuka pintu bagi gelombang baru sportswashing di sepak bola Inggris?



