Graham Potter Bangkit dari Kegagalan di Chelsea dan West Ham, Bawa Swedia ke Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Graham Potter sukses membawa Swedia lolos ke Piala Dunia 2026 setelah kemenangan dramatis atas Polandia di play-off.
- Karier Potter sempat terpuruk usai dipecat Chelsea dan West Ham, namun ia bangkit dengan pendekatan filosofis dan pengalaman di Swedia.
- Swedia tergabung di Grup F bersama Tunisia, Belanda, dan Jepang, dengan duet Alexander Isak dan Viktor Gyokeres sebagai andalan.

Graham Potter, pelatih asal Inggris yang sempat mengalami kegagalan di Chelsea dan West Ham, kini menikmati puncak karier setelah membawa tim nasional Swedia lolos ke Piala Dunia 2026. Kemenangan dramatis 3-2 atas Polandia di play-off Maret lalu, berkat gol Viktor Gyokeres pada menit ke-88, menjadi momentum kebangkitan yang tak terlupakan bagi pria 51 tahun itu.
Potter mengakui bahwa pengalaman pahit di Chelsea—hanya bertahan tujuh bulan—dan West Ham yang berakhir September lalu sangat menyakitkan. "Saya telah mengalami kegagalan, tapi juga kesuksesan. Itulah hidup," ujarnya. Ia menekankan pentingnya perspektif dan rasa syukur, meski mengakui bahwa melewati masa-masa sulit tidaklah mudah. Kemenangan di Stockholm, di hadapan 50.000 penonton, menjadi malam terbaik dalam kariernya.
Swedia sendiri kembali ke panggung Piala Dunia setelah absen sejak 2018. Gol Gyokeres—yang sebelumnya mencetak hat-trick melawan Ukraina—menjadi penentu. Potter menggambarkan euforia saat gol terjadi sebagai "pengalaman di luar tubuh". Ia juga mengaku senang bisa merasakan kembali sisi positif sepak bola setelah sekian lama diterpa kritik.
Karier kepelatihan Potter justru dimulai di Swedia, saat ia membawa Ostersunds FK dari kasta keempat hingga ke Allsvenskan, memenangkan Piala Domestik, dan berlaga di Eropa. Ia bahkan fasih berbahasa Swedia dan mengaku merasa "sangat Swedia" saat bekerja—ia ikut menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan. Dua anaknya lahir di Swedia, dan pengalaman tujuh tahun di Ostersunds membentuk identitas kepelatihannya.
Potter juga mendapat pesan selamat dari legenda Swedia, Zlatan Ibrahimovic, yang ia sebut sebagai "salah satu raja Swedia". Ia mengingat lagu turnamen Swedia tahun 1994, "När vi gräver guld i USA", yang menjadi bagian dari budaya sepak bola negara itu. Keputusannya menerima tawaran Swedia dianggap sebagai langkah terukur, mengingat ia sempat menjadi pengangguran setelah dipecat West Ham.
Untuk Piala Dunia nanti, Potter mengandalkan dua penyerang bintang: Alexander Isak (Liverpool) dan Viktor Gyokeres (Arsenal). Isak, yang dibeli Liverpool seharga £125 juta, belum pernah menjadi starter di bawah Potter karena cedera. Namun, Potter yakin Isak adalah profesional top yang akan segera pulih. Gyokeres, yang mencetak 21 gol di musim perdananya bersama Arsenal, tetap mendapat kritik meski tampil gemilang di kualifikasi. "Dari perspektif kami, dampaknya signifikan," kata Potter.
Swedia akan menjalani persiapan unik dengan berkumpul di Stockholm agar pemain bisa menghabiskan waktu bersama keluarga, berbeda dengan Inggris yang memilih Miami. Setelah uji coba melawan Norwegia dan Yunani, Swedia akan memulai perjuangan melawan Tunisia pada 15 Juni. Potter, yang mengingat kenangan pertama menonton Diego Maradona di Piala Dunia 1986, mengaku bekerja di ajang sebesar ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan.
Pertanyaan besarnya: bisakah Potter mengulang keajaiban Ostersunds di panggung dunia? Atau justru tekanan turnamen akan kembali menguji mentalitasnya?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460744/original/090622000_1767280272-fabio_lefundes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4671933/original/083327500_1701525872-20231202BL_Final_Piala_Dunia_U-17_2023-03.JPG)