Krisis Sepak Bola Italia: Pelatih Karier Desak FIGC Pertahankan Baldini
Baca dalam 60 detik
- Serse Cosmi mendukung Silvio Baldini sebagai pelatih tetap Italia, menilai komunikasinya lebih efektif daripada banyak pelatih lain sepanjang karier.
- Italia gagal lolos ke Piala Dunia ketiga kali berturut-turut, memicu perdebatan tentang kepemimpinan dan arah sepak bola nasional.
- Cosmi menyalahkan figur-figur di posisi kunci, bukan pemain atau akar rumput, sebagai penyebab utama kemunduran sepak bola Italia.

Kegagalan Italia menembus Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun memicu perdebatan sengit tentang masa depan tim nasional. Di tengah krisis kepercayaan itu, pelatih kawakan Serse Cosmi angkat bicara: ia mendesak Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk mempertahankan Silvio Baldini sebagai pelatih tetap, dengan alasan sang juru taktik interim memiliki kemampuan komunikasi yang langka dan sangat dibutuhkan saat ini.
Berbicara dalam acara Benito Stirpe Live The Dream, Cosmi—yang dikenal dengan karier kepelatihannya yang panjang di Serie A—menyatakan bahwa Baldini telah menunjukkan lebih banyak visi dalam dua konferensi pers dibandingkan yang dilakukan kebanyakan pelatih sepanjang karier mereka. “Penilaian saya memang bias, tapi saya akan mempertahankan Baldini. Ia mengatakan lebih banyak dalam dua konferensi pers daripada yang diucapkan orang lain dalam seratus kali,” ujar Cosmi seperti dikutip TuttoMercatoWeb.
Menurut Cosmi, kemampuan Baldini menjangkau publik adalah aset yang tidak bisa diabaikan. “Pelatih yang berkomunikasi seperti itu harus bersama tim nasional karena ia mencapai hati orang-orang,” tegasnya. Dukungan ini muncul di saat FIGC masih mencari solusi jangka panjang pasca-kegagalan di kualifikasi Piala Dunia 2026, yang memperpanjang penderitaan tifosi Italia.
Namun, Cosmi tidak hanya memuji Baldini. Ia juga melontarkan kritik tajam terhadap struktur kekuasaan sepak bola Italia. Menurutnya, akar masalah bukan terletak pada pemain atau pembinaan usia muda, melainkan pada orang-orang yang mengelola federasi dan klub. “Yang hilang adalah manusia-manusia yang kompeten,” katanya. “Dalam satu dekade terakhir, orang-orang yang terlibat tidak menunjukkan diri mereka setara dengan standar pergerakan sepak bola. Maksud saya orang-orang di posisi kunci, bukan mereka yang di puncak.”
Pernyataan Cosmi mencerminkan frustrasi yang meluas di kalangan pengamat dan suporter Italia. Setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2018 dan 2022, kegagalan ketiga menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas sistem pembinaan dan kepemimpinan FIGC. Banyak pihak menilai bahwa campur tangan politik dan kepentingan pribadi telah menghambat modernisasi sepak bola Italia.
Cosmi juga menyoroti perubahan hubungan antara suporter dan sepak bola modern. “Orang-orang menonton sepak bola dengan cara yang berbeda dibandingkan 30 atau 40 tahun lalu. Cinta pada sepak bola masih ada, tapi ada hal-hal yang perlu dipahami dan ditinjau ulang. Sepak bola tidak bisa berjalan tanpa publik dan gairah suporter. Saat itu hilang, tidak akan ada lagi sepak bola,” ujarnya. Pernyataan ini mengingatkan pada fenomena serupa di Indonesia, di mana antusiasme suporter kerap berbenturan dengan komersialisasi dan kebijakan federasi.
Di luar topik utama, Cosmi juga berbagi cerita tentang hampir merekrut Ezequiel Lavezzi saat masih menangani Genoa. Ia mengaku telah mempelajari banyak rekaman sang pemain Argentina, namun rencana itu gagal karena Genoa terdegradasi. “Saya menonton banyak sekali rekaman Lavezzi musim itu. Tapi kemudian Genoa turun kasta, saya pergi ke tempat lain, dan Lavezzi bergabung dengan Napoli,” kenangnya sambil tersenyum.
Kini, FIGC dihadapkan pada keputusan sulit: mempertahankan Baldini yang populer di mata publik, atau mencari pelatih baru dengan reputasi lebih mentereng. Cosmi jelas telah memilih posisinya. Pertanyaannya, apakah federasi akan mendengarkan suara dari dalam negeri, atau justru kembali bergantung pada nama-nama asing? Jawabannya akan menentukan arah sepak bola Italia untuk tahun-tahun mendatang.



