Graham Potter Bawa Swedia ke Piala Dunia 2026: Mimpi yang Terwujud
Baca dalam 60 detik
- Pelatih asal Inggris, Graham Potter, sukses membawa Swedia lolos ke Piala Dunia 2026 melalui babak play-off Eropa.
- Kemenangan dramatis atas Polandia berkat gol telat Viktor Gyokeres menjadi penentu tiket ke Amerika Utara.
- Swedia tergabung di Grup F bersama Belanda, Jepang, dan Tunisia; Potter optimistis timnya bisa bersaing.
Graham Potter, pelatih asal Inggris yang pernah menukangi Chelsea dan Brighton, berhasil mengantarkan Swedia lolos ke Piala Dunia 2026 setelah melalui babak play-off yang menegangkan. Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, Potter mengaku perasaan saat gol kemenangan tercipta bagaikan pengalaman di luar tubuhโsulit dipercaya namun nyata.
Swedia nyaris gagal melaju ke putaran final setelah tampil buruk di babak kualifikasi grup. Namun, berkat performa apik di UEFA Nations League, mereka mendapat kesempatan kedua melalui play-off. Potter yang baru ditunjuk pada Oktober lalu langsung dihadapkan pada tekanan besar. Dua pertandingan tersisa di grup tidak cukup untuk memperbaiki posisi, tetapi Swedia memanfaatkan peluang play-off dengan sempurna.
Pada laga penentuan melawan Polandia di Solna, Viktor Gyokeres menjadi pahlawan setelah mencetak gol pada menit ke-88. Striker Arsenal itu sebelumnya juga mencetak hattrick saat Swedia mengalahkan Ukraina 3-1 di semifinal play-off. "Saya melihat bola masuk, lalu bangku cadangan berlari ke lapangan. Rasanya seperti mimpi," ujar Potter kepada FIFA.
Karier kepelatihan Potter memang unik. Ia memulai dari klub kecil Ostersunds di Swedia, membawa tim tersebut dari kasta keempat hingga juara Piala Swedia dan berlaga di Eropa. Setelah itu, ia melatih Swansea, Brighton, Chelsea, dan West Ham sebelum akhirnya kembali ke Swedia sebagai pelatih tim nasional. "Saya tidak pernah membayangkan akan menjadi pelatih tim nasional, apalagi membawa mereka ke Piala Dunia. Ini pengalaman yang luar biasa," kata Potter.
Saat Potter mengambil alih, Swedia sedang dalam performa buruk: tiga kalah dan satu imbang di kualifikasi, hanya mencetak dua gol. "Tim ini kehilangan kepercayaan diri dan sedikit kepercayaan satu sama lain," kenang Potter. Ia kemudian fokus membangun kembali keseimbangan antara pertahanan dan serangan, serta memaksimalkan kekuatan individu pemain.
Salah satu kekuatan utama Swedia adalah lini depan. Selain Gyokeres, Alexander Isak juga menjadi andalan meski absen di play-off karena cedera. Potter memuji Gyokeres sebagai pemain yang luar biasa, tidak hanya dalam mencetak gol tetapi juga kerja kerasnya untuk tim. "Dia bertahan tanpa lelah. Kontribusinya sangat besar," puji Potter.
Di Piala Dunia nanti, Swedia akan menghadapi lawan-lawan berat di Grup F: Belanda, Jepang, dan Tunisia. Namun, Potter menekankan pentingnya menikmati pengalaman ini. "Turnamen ini menyatukan semua orang. Kami ingin mewakili negara dengan cara terbaik, menunjukkan siapa kami secara kolektif dan individu, dan pada akhirnya menikmatinya," tutupnya.
Bagi Indonesia, perjalanan Swedia ini bisa menjadi inspirasi. Seperti Swedia yang bangkit dari keterpurukan, tim nasional Indonesia pun tengah berjuang meningkatkan performa di kancah internasional. Konsistensi dan kepercayaan diri, seperti yang ditunjukkan Potter, menjadi kunci utama.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8003869/original/032200800_1780842952-reno.jpg)
