Asing Balik Arah: Net Sell Rp1,27 Triliun di Tengah Tekanan IHSG
Baca dalam 60 detik
- Investor asing membukukan jual bersih Rp1,27 triliun pada penutupan Kamis (4/6), membalikkan posisi beli bersih Rp179 miliar di sesi I.
- Saham perbankan menjadi sasaran utama aksi jual asing, dengan empat bank besar mencatatkan foreign sell lebih dari Rp1,19 triliun.
- IHSG berhasil memangkas koreksi dari -5% ke -1,7% di akhir sesi, namun tekanan jual asing masih membayangi prospek pasar.

Investor asing mengubah sikap secara drastis pada perdagangan Kamis (4/6/2026), menutup sesi dengan jual bersih (net sell) Rp1,27 triliun setelah sempat berada di zona beli bersih (net buy) sebesar Rp179 miliar pada sesi pertama. Pembalikan arah ini terjadi di tengah volatilitas tinggi yang masih membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Data perdagangan mencatat total nilai beli asing mencapai Rp12,52 triliun, sementara nilai jualnya Rp13,79 triliun. Artinya, dalam hitungan jam, asing berbalik dari akumulasi menjadi distribusi masif. Tekanan jual ini terutama terfokus pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan yang selama ini menjadi pilar pasar modal domestik.
Empat bank pelat merah dan swasta nasional—BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI—menjadi sasaran utama aksi jual asing. Total foreign sell keempat saham ini melampaui Rp1,19 triliun, menandakan bahwa investor global masih khawatir terhadap prospek sektor perbankan di tengah tekanan ekonomi makro. Saham TPIA, yang sebelumnya menjadi primadona beli asing di sesi I, justru berakhir sebagai salah satu yang paling banyak dilepas pada penutupan.
Bagi pelaku pasar Indonesia, aksi jual asing ini menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor global terhadap pasar saham domestik masih rapuh. Meskipun IHSG berhasil memangkas koreksi dari -5% menjadi -1,7% pada akhir sesi, volume jual asing yang besar menunjukkan bahwa tekanan fundamental belum mereda. Kapitalisasi pasar yang bertengger di Rp10.263 triliun pun terancam tergerus jika arus modal asing terus keluar.
“Pembalikan arah asing dari net buy ke net sell dalam satu hari mencerminkan sentimen yang sangat sensitif terhadap berita makro dan risiko global,” ujar analis pasar modal dari sebuah sekuritas nasional. Menurutnya, sektor perbankan menjadi barometer utama karena sensitivitasnya terhadap suku bunga dan pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah aksi jual ini hanya bersifat sementara atau merupakan awal dari tren outflow yang lebih panjang. Dengan IHSG yang masih berada di zona merah dan 651 emiten tercatat melemah, pasar membutuhkan katalis positif untuk mengembalikan kepercayaan asing. Tanpa itu, tekanan jual diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa sesi ke depan.



