Teror di Berlin Pride: Satu Tewas, Puluhan Luka, Pelaku Berstatus Radikal Diburu
Baca dalam 60 detik
- Polisi Jerman memburu Abdul Ballout, warga keturunan Lebanon, yang diduga melancarkan serangan mobil dan parang di acara Berlin Pride, menewaskan satu orang dan melukai 29 lainnya.
- Ballout, 21 tahun, telah dikenal aparat karena rekam jejak kriminal dan radikalisasi, bahkan sempat dihukum percobaan atas rencana kekerasan subversif pada Mei lalu.
- Serangan ini memicu kembali perdebatan soal keamanan dan imigrasi di Jerman, serta menimbulkan kekhawatiran akan target soft target seperti festival publik di Indonesia.

Seorang perempuan tewas dan 29 orang lainnya luka-luka setelah sebuah kendaraan putih menabrak kerumunan di pinggiran Berlin Pride, Sabtu malam (25/7). Pelaku, yang disebut Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt sebagai Abdul Ballout, diduga kemudian turun dan menyerang korban dengan parang. Apparat keamanan Jerman kini memburu pemuda 21 tahun itu, yang telah masuk radar kepolisian sebagai simpatisan kelompok Negara Islam (IS).
Insiden terjadi sekitar pukul 22.00 waktu setempat di sisi selatan Taman Tiergarten, lokasi yang berdekatan dengan rute pawai Christopher Street Day (CSD) yang dihadiri ratusan ribu orang. Setelah menabrakkan mobil minivan Citroen ke sebuah pohon, Ballout disebut turun dan terus menganiaya orang-orang di sekitarnya. Dobrindt menyatakan bahwa dari bukti-bukti yang ada, pihaknya yakin ini adalah serangan teroris bermotif Islamis.
Ballout bukanlah wajah baru bagi aparat keamanan. Dobrindt mengungkapkan bahwa tersangka telah dikenal karena 'sejumlah besar' kejahatan sebelumnya dan telah terindikasi radikalisasi. Media Jerman melaporkan bahwa hukuman terhadap Ballout pada Mei lalu terkait dengan upayanya bepergian ke Timur Tengah tahun lalu untuk bergabung dengan IS, yang gagal. Meskipun divonis penjara, hakim memberikan hukuman percobaan โ sebuah keputusan yang kini menuai kritik.
Serangan ini mengguncang Jerman yang baru saja melewati masa pemilu dengan serangkaian insiden kekerasan. Pada 2024, seorang psikiater Arab Saudi, Taleb Jawad al-Abdulmohsen, menabrakkan mobil ke pasar Natal di Magdeburg, menewaskan enam orang dan melukai lebih dari 300. Sebelumnya, serangan truk di pasar Natal Berlin 2016 menewaskan 13 orang. Kini, peristiwa Berlin Pride kembali memanaskan perdebatan tentang kebijakan keamanan dan imigrasi. Politisi dari partai sayap kanan Alternatif fรผr Deutschland (AfD), Martin Hess, menyebut serangan ini sebagai 'kegagalan total kebijakan keamanan pemerintah'.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan acara publik besar terhadap serangan teror. Meskipun level ancaman terorisme di Indonesia relatif terkendali, modus serangan kendaraan dan senjata tajam pernah terjadi, seperti di Sarinah 2016. Komunitas LGBTQ+ di Indonesia, yang kerap menghadapi stigmatisasi, juga rentan menjadi sasaran. Langkah pengamanan ekstra pada perayaan serupa, seperti Festival Film LGBTQ+ atau acara kebudayaan, perlu terus dievaluasi. Seperti diungkapkan oleh para analis keamanan, serangan terhadap 'soft target' seperti pawai kebanggaan sulit dicegah sepenuhnya, namun deteksi dini terhadap individu radikal menjadi kunci.
Di Berlin, warga menggelar doa bersama di Gerbang Brandenburg, dengan obor dan bunga. Armin Duenhoelter, seorang seniman drag yang berada di belakang panggung saat serangan terjadi, mengaku masih syok tetapi bertekad hadir di CSD tahun depan. 'Kami tidak akan membiarkan ini menjatuhkan kami,' ujarnya. Kanselir Friedrich Merz, dalam acara peringatan di Marienkirche, menyerukan agar masyarakat tidak terintimidasi: 'Mereka hanya ingin memecah belah kita.' Pertanyaan besarnya, apakah Jerman mampu menyeimbangkan keamanan dan kebebasan sipil tanpa memperkuat polarisasi?



