Vale Indonesia (INCO) Tebar Dividen Jumbo Rp816 Miliar, Catat Tanggal Krusialnya
Baca dalam 60 detik
- Pemegang saham INCO menyetujui pembagian dividen tunai 60% dari laba bersih 2025, setara US$45,6 juta.
- Kenaikan laba 31,67% menjadi US$76,06 juta menjadi pendorong utama besarnya dividen tahun ini.
- Jadwal kunci: cum dividen 10 Juni, ex dividen 11 Juni, dan pembayaran pada 26 Juni 2026.

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memastikan akan membagikan dividen tunai total US$45,6 juta atau sekitar Rp816,14 miliar kepada para pemegang sahamnya, menyusul persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pekan ini. Keputusan ini mencerminkan komitmen emiten tambang nikel pelat merah itu untuk memberikan imbal hasil kompetitif di tengah kinerja keuangan yang membaik.
Dividen yang dibagikan setara dengan 60% dari laba bersih tahun buku 2025, yang tercatat sebesar US$76,06 juta. Angka ini melonjak 31,67% dibandingkan laba tahun sebelumnya, menandai pemulihan yang solid setelah periode volatilitas harga komoditas. Bagi investor, besaran dividen ini menjadi sinyal positif atas prospek bisnis Vale ke depan, terutama dalam mengelola rantai pasok nikel global.
Manajemen INCO dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (4/6/2026) menyebutkan bahwa setiap pemegang satu saham akan memperoleh dividen bruto sebesar US$0,00433. Dengan jumlah saham beredar yang mencapai lebih dari 10,5 miliar lembar, total dana yang disiapkan mencapai US$45,6 juta. Pembayaran akan dilakukan pada 26 Juni 2026 kepada pemegang saham yang tercatat dalam daftar pemegang saham per 12 Juni 2026.
Bagi investor ritel dan institusi, jadwal cum dividen menjadi momen krusial. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 10 Juni 2026, sementara ex dividen di pasar yang sama berlaku pada 11 Juni. Adapun cum dividen di pasar tunai terjadi pada 12 Juni, dengan ex dividen pada 15 Juni. Artinya, investor yang ingin menikmati dividen harus membeli saham INCO paling lambat pada 10 Juni (pasar reguler) atau 12 Juni (pasar tunai).
Keputusan Vale membagikan dividen jumbo ini tak lepas dari peran induk usahanya, MIND ID โ holding BUMN pertambangan โ yang mengendalikan mayoritas saham. Dengan laba bersih yang tumbuh signifikan, Vale menunjukkan kemampuan menghasilkan kas yang kuat, didukung oleh permintaan nikel yang stabil untuk baterai kendaraan listrik. Namun, investor perlu mencermati risiko fluktuasi harga nikel global yang masih tinggi, terutama jika perlambatan ekonomi Tiongkok berlanjut.
Bagi pasar modal Indonesia, aksi korporasi ini memperkuat daya tarik saham tambang sebagai pilihan investasi yang memberikan dividen rutin. Analis memperkirakan, dengan payout ratio 60%, Vale masih menyisakan laba ditahan yang cukup untuk ekspansi proyek smelter dan hilirisasi. Pertanyaannya, apakah tren kenaikan laba ini bisa berlanjut di tengah tekanan biaya produksi dan ketidakpastian kebijakan energi global? Jawabannya akan menentukan besaran dividen tahun depan.


