Rubio Kecam Sensor China atas Tragedi Tiananmen, Pernyataan Lebih Pendek di Tengah Pelukan Trump ke Xi
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengeluarkan pernyataan mengecam upaya China menyensor ingatan tentang tragedi Tiananmen 1989, menjelang peringatan ke-37.
- Pernyataan Rubio tahun ini hanya separuh panjang dibanding tahun lalu, mencerminkan perubahan sikap AS di bawah Trump yang lebih lunak terhadap China.
- Pertemuan Trump-Xi di Beijing pada Mei lalu disebut-sebut sebagai latar di balik peredaman nada kritik AS, meski rivalitas geopolitik tetap berlangsung.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, secara terbuka mengecam upaya otoritas China untuk menghapus ingatan publik tentang peristiwa berdarah di Lapangan Tiananmen, Beijing, pada 1989. Dalam pernyataan resmi yang dirilis menjelang peringatan ke-37 tragedi tersebut, Rubio menyebut para mahasiswa, pekerja, dan warga sipil yang tewas saat itu telah berkumpul secara damai untuk menuntut reformasi demokrasi dan akuntabilitas korupsi.
"Kami mengingat kehidupan mereka dan menghormati warisan mereka," ujar Rubio, seraya menegaskan bahwa sensor tidak akan mampu menghapus masa lalu. Namun, yang menarik perhatian adalah panjang pernyataan Rubio tahun ini—hanya setengah dari pernyataan tahun lalu saat peringatan ke-36. Pengamat menilai ini sebagai sinyal perubahan pendekatan Washington di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang cenderung lebih lunak terhadap Beijing.
Peristiwa 4 Juni 1989, yang menewaskan sedikitnya ratusan orang, masih menjadi topik tabu di China. Pemerintah China konsisten membantah adanya pelanggaran, awalnya menyebut aksi tersebut sebagai "kerusuhan kontra-revolusioner", lalu direvisi menjadi "kerusuhan politik" yang dianggap sudah selesai dan tidak perlu dibahas lagi. Rubio, dalam pernyataannya, menambahkan bahwa "suatu hari nanti mereka yang berkorban untuk menegakkan hak kebebasan berekspresi dan berkumpul secara damai akan terbukti benar."
Konteks domestik Indonesia patut dicermati. Sebagai negara dengan sejarah reformasi dan kebebasan berekspresi yang diperjuangkan melalui demonstrasi mahasiswa pada 1998, Indonesia memiliki perspektif unik terhadap isu ini. Pemerintah Indonesia, yang menjalin hubungan dagang erat dengan China, kerap berada dalam posisi hati-hati saat merespons isu hak asasi manusia di China. Sementara itu, publik Indonesia yang aktif di media sosial kerap menyuarakan solidaritas terhadap gerakan pro-demokrasi di berbagai negara, termasuk China.
Pendekatan Trump yang lebih lunak terhadap China—tercermin dari pertemuannya dengan Xi Jinping di Beijing pada pertengahan Mei lalu—menjadi latar belakang penting. Kedua pemimpin sepakat untuk menstabilkan hubungan bilateral di tahun-tahun mendatang, meskipun persaingan geopolitik dan sengketa dagang masih berlangsung. Analis menilai bahwa pernyataan Rubio yang lebih pendek bisa jadi merupakan kompromi antara retorika keras tradisional AS dan keinginan Trump untuk menjaga hubungan baik dengan China.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tekanan internasional terhadap China terkait Tiananmen akan terus meredup seiring pragmatisme ekonomi global, atau justru kembali menguat jika terjadi perubahan kepemimpinan di AS. Bagi Indonesia, keseimbangan antara prinsip demokrasi dan kepentingan ekonomi dengan China akan terus menjadi tantangan diplomatik yang rumit.



