Penembakan Beruntun di Israel: Satu Tewas, Lima Luka, Pelaku Ditembak Mati
Baca dalam 60 detik
- Serangan bersenjata di tiga lokasi berbeda di Israel tengah menewaskan satu warga sipil dan melukai lima lainnya, dengan satu pelaku tewas ditembak polisi.
- Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben Gvir menyerukan hukuman mati bagi pelaku yang masih buron, merujuk pada undang-undang baru yang kontroversial.
- Insiden ini memicu kembali perdebatan tentang efektivitas kebijakan keamanan Israel dan potensi eskalasi konflik di kawasan.

Seorang pria berusia 35 tahun tewas dan lima orang lainnya luka-luka dalam serangkaian penembakan yang terjadi di Israel pada Minggu (7/6). Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa satu pelaku telah ditembak mati oleh aparat, sementara pemburu terhadap tersangka lain masih berlangsung.
Layanan darurat Magen David Adom melaporkan bahwa korban tewas menderita luka tembak di bagian vital. Lima korban luka, dua di antaranya kritis dan tiga dalam kondisi sedang, telah dilarikan ke rumah sakit dengan cedera tembus di tubuh mereka. Serangan terjadi di beberapa titik, termasuk di dekat kota Kokhav Yair yang berjarak beberapa kilometer dari Tepi Barat yang diduduki, serta di Tzur Natan dan Tzur Yitzhak.
Polisi Israel menyatakan bahwa mereka menemukan kendaraan yang diduga digunakan pelaku dan menembak mati seorang tersangka di dekat Kokhav Yair. Militer Israel mengonfirmasi kepada AFP bahwa satu pelaku tewas dan pencarian terhadap pelaku kedua terus dilakukan. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebutkan bahwa ia telah mengadakan penilaian situasi dan memantau serangan mematikan ini.
Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben Gvir, menulis di platform X bahwa jika teroris tertangkap hidup-hidup, ia akan dieksekusi. Pernyataan ini merujuk pada undang-undang yang baru disahkan Israel yang memberlakukan hukuman mati bagi warga Palestina yang terbukti melakukan serangan teror mematikan terhadap Israel. "Darah Yahudi tidak murah. Siapa pun yang membunuh seorang Yahudi akan melihat jerat algojo," ujar Ben Gvir.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan kerentanan keamanan di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada stabilitas geopolitik regional. Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dan pendukung perjuangan Palestina, kerap mengikuti perkembangan konflik Israel-Palestina. Serangan semacam ini dapat memicu reaksi di dalam negeri, baik dari kelompok pro-Palestina maupun dari pemerintah yang mendorong solusi dua negara. Selain itu, kebijakan hukuman mati yang kontroversial ini berpotensi memperkeruh hubungan diplomatik dan memicu kecaman internasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah serangan ini akan memicu siklus balas dendam yang lebih luas, atau justru mendorong upaya mediasi internasional untuk meredakan ketegangan. Dengan pencarian pelaku kedua yang masih berlangsung, situasi keamanan di Israel diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan.



