Paus Leo di Madrid: Seruan Hentikan Polarisasi di Tengah Gelombang Migran
Baca dalam 60 detik
- Paus Leo mengecam para pemimpin global yang menggunakan narasi pemecah belah demi popularitas, saat ia memulai kunjungan ke Spanyol.
- Kunjungan ini menyoroti kontras kebijakan imigrasi Spanyol yang terbuka dengan pendekatan keras negara lain, termasuk AS.
- Di tengah sambutan massa, Paus juga harus menghadapi tuntutan korban pelecehan seksual oleh rohaniwan yang menginginkan keadilan.
Paus Leo secara terbuka mengecam para pemimpin dunia yang terus mengobarkan polarisasi demi keuntungan politik, saat ia memulai kunjungan kenegaraan selama sepekan di Spanyol pada Sabtu (6/6). Di hadapan Raja Felipe VI dan ribuan warga yang memadati Madrid, ia menyerukan penghentian "penyederhanaan steril" yang menurutnya hanya memperdalam perpecahan dan mengabaikan kompleksitas realitas sosial.
Kunjungan pertama Paus ke Spanyol sejak 2011 ini langsung diwarnai agenda yang sarat muatan politik. Sejak tiba, Paus yang dikenal kritis terhadap kebijakan imigrasi Presiden AS Donald Trump itu mengunjungi tempat penampungan tunawisma yang dikelola gereja di Madrid. Ia juga dijadwalkan bertemu dengan para migran di Kepulauan Canary, salah satu pintu masuk utama imigran ke Eropa. Langkah ini menjadi kontras tajam dengan kebijakan negara-negara Barat lain, termasuk AS yang memperketat imigrasi.
Dalam pidatonya di Istana Kerajaan Madrid, Paus Leo menyesalkan bahwa "godaan untuk meraih popularitas dengan menyulut api polarisasi" justru semakin menguat. Ia mengajak semua pihak untuk meninggalkan narasi yang memecah belah dan menghargai kerumitan sejarah. Menurutnya, teknologi juga ikut andil dalam memperkuat prasangka dan melemahkan pemikiran kritis—sebuah pengakuan langka dari seorang pemimpin agama tentang dampak negatif era digital.
Spanyol sendiri menjadi contoh menarik. Di bawah Perdana Menteri Pedro Sanchez, pemerintah sosialis membuka program amnesti massal yang memungkinkan sekitar 500.000 imigran mengajukan status legal. Kebijakan ini bertolak belakang dengan pendekatan keras Trump. Paus Leo memuji semangat inklusif Spanyol, seraya mengingatkan bahwa sejarah negeri itu—dengan kerja sama antaragama di Toledo pada abad pertengahan—menunjukkan bahwa "budaya pertemuan, bukan konfrontasi, yang menumbuhkan stabilitas dan kemakmuran."
Di luar pesan politik, Paus Leo juga harus menghadapi isu pelik pelecehan seksual dalam gereja. Ia dijadwalkan bertemu dengan para korban pelecehan oleh rohaniwan, namun sejumlah kelompok korban mengeluh tidak dilibatkan. Mereka menuntut hak dan reparasi, bukan sekadar foto bersama Paus. Sebuah laporan ombudsman Spanyol pada 2023 memperkirakan ada ratusan ribu korban pelecehan oleh klerus selama puluhan tahun—skandal yang terus membayangi gereja di berbagai negara.
Menariknya, kunjungan Paus bertepatan dengan konser Bad Bunny selama sepuluh hari di Madrid. Paus Leo bercanda di pesawat bahwa ia bersaing dengan penyanyi Puerto Riko itu untuk merebut perhatian anak muda. "Jika mereka dihadapkan pada pertanyaan: mau lihat Bad Bunny atau Paus, saya pikir banyak yang akan memilih Bad Bunny," ujarnya. Namun, antusiasme massa yang menyambutnya di sepanjang jalan Madrid membuktikan bahwa figur Paus Leo masih memiliki daya tarik tersendiri.
Bagi Indonesia, kunjungan Paus Leo ke Spanyol memberikan pelajaran tentang pengelolaan keberagaman dan kebijakan imigrasi. Di tengah tren politik identitas yang menguat di berbagai negara, seruan Paus untuk menghindari polarisasi dan menghargai kompleksitas menjadi relevan. Pertanyaannya, mampukah para pemimpin di Indonesia—yang juga kerap menggunakan narasi pemecah belah—mendengarkan pesan serupa?



