Algeria Bangkit dari Kegagalan: Mandi Siap Pimpin 'Fennecs' di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Aissa Mandi, bek Lille dengan 114 caps, menjadi pilar utama Algeria yang akan berlaga di Piala Dunia 2026 setelah dua kali gagal lolos.
- Pengalaman pahit tersingkir dari Kamerun pada kualifikasi 2022 menjadi pelajaran berharga yang memperkuat mentalitas pantang menyerah tim.
- Mandi menekankan pentingnya kekompakan tim dan transfer pengalaman ke pemain muda demi melampaui capaian terbaik Algeria di 2014.
Bek veteran Lille, Aissa Mandi, yang kini menjadi pemain dengan caps terbanyak sepanjang sejarah Algeria (114 penampilan), siap memikul tanggung jawab besar membawa timnya melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026. Setelah melewati masa kelam gagal lolos ke dua edisi sebelumnya, Mandi percaya bahwa semangat pantang menyerah adalah identitas yang tak bisa ditawar.
Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, Mandi mengakui bahwa perjalanan Algeria penuh liku. Euforia lolos ke babak 16 besar Brasil 2014—saat mereka nyaris mengalahkan Jerman sebelum kalah 2-1 di perpanjangan waktu—kini menjadi fondasi kebangkitan. Namun, kegagalan beruntun lolos ke Rusia 2018 dan Qatar 2022 menjadi pukulan telak. Khususnya kekalahan dramatis dari Kamerun pada babak play-off Afrika 2022, yang ditentukan oleh gol tandang di menit-menit akhir, meninggalkan luka mendalam.
“Itu semua terjadi di menit-menit terakhir. Kami sangat dekat, tetapi itulah sepak bola,” ujar Mandi mengenang. “Pengalaman pahit itu justru menjadi pelajaran. Kami harus mengenali kesalahan agar tidak terulang, dan yang terpenting, menjadi tim yang lebih kuat secara kolektif.”
Mandi, yang kini berusia 33 tahun, menyadari perannya sebagai pemimpin yang harus menularkan pengalaman kepada generasi muda. “Komunikasi adalah kunci. Kami harus menanamkan arti memikul harapan bangsa dan tanggung jawab yang menyertainya. Bermain untuk Algeria adalah kebanggaan yang harus dijaga dengan standar tertinggi,” tegasnya. Ia menolak menyoroti kontribusi individu, lebih memilih menekankan pentingnya persiapan teknis, taktis, dan kerja sama erat dengan staf pelatih.
Bagi Mandi, momen mendengar lagu kebangsaan di stadion saat debut internasionalnya adalah pengalaman magis yang tak terlupakan. Kini, setelah melakoni lebih dari seratus pertandingan, ia masih merasakan getaran yang sama setiap kali mengenakan seragam hijau. “Ini selalu istimewa, baik caps pertama maupun terakhir. Ada sesuatu yang magis yang harus dihargai,” katanya.
Menatap Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, Algeria tergabung di Grup J bersama Argentina, Austria, dan Yordania. Mandi menolak berspekulasi soal peluang individu, namun optimistis bahwa tim yang bersatu dan pantang menyerah bisa menjawab tantangan. “Yang saya ingin lihat adalah tim yang tidak pernah menyerah—kelompok yang kuat dan bersatu bergerak maju. Itulah yang akan membuat kami bangga,” pungkasnya.
Pertanyaan besarnya: bisakah Algeria mengulang atau bahkan melampaui pencapaian 2014 di tengah persaingan grup yang berat? Jawabannya akan bergantung pada sejauh mana semangat kolektif yang diusung Mandi dan kawan-kawan mampu diwujudkan di lapangan.



