Prancis Menuju Piala Dunia 2026: Ambisi Sejarah di Tengah Bayang-Bayang Kekalahan
Baca dalam 60 detik
- Timnas Prancis lolos ke Piala Dunia 2026 tanpa kekalahan, memperpanjang rekor delapan partisipasi beruntun.
- Didier Deschamps berpeluang menjadi pelatih pertama yang mencapai tiga final Piala Dunia berturut-turut.
- Kylian Mbappe, dengan 12 gol di dua edisi terakhir, mengincar rekor gol terbanyak Prancis sepanjang masa di Piala Dunia.
Prancis akan tampil di Piala Dunia ke-17 sepanjang sejarah pada 2026, sekaligus memperpanjang rekor delapan partisipasi beruntun. Tim besutan Didier Deschamps itu lolos setelah menekuk Ukraina 4-0 di Paris pada November 2025, dengan dua gol dari Kylian Mbappe. Namun, misi utama Les Bleus bukan sekadar tampil: mereka ingin menjadi negara Eropa kedua setelah Jerman Barat yang mencapai tiga final beruntun, serta menebus kekalahan pahit dari Argentina di final Qatar 2022.
Deschamps, yang akan mengakhiri masa baktinya setelah turnamen ini, telah menangani tim nasional selama 14 tahun. Ia termasuk dalam jajaran elit pelatih yang pernah memenangi Piala Dunia sebagai kapten dan pelatih, bersama Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer. Di bawah komandonya, Prancis meraih gelar juara 2018 dan runner-up 2022. Kini, ia berpeluang mencatatkan namanya sebagai pelatih pertama yang mencapai tiga final Piala Dunia beruntun.
Dalam perjalanan kualifikasi, Prancis tidak terkalahkan dalam enam pertandingan. Mereka mencetak 16 gol dan hanya kebobolan empat kali. Mbappe menjadi top skor dengan lima gol, sementara Michael Olise dan Jean-Philippe Mateta masing-masing menyumbang dua gol. Skuad yang dibawa ke Amerika Utara juga diperkuat Ousmane Dembele, Desire Doue, dan sejumlah pemain muda berbakat.
Sejarah Prancis di Piala Dunia penuh dengan pasang surut. Mereka menjadi pionir pada 1930 ketika Lucien Laurent mencetak gol pertama dalam sejarah turnamen. Puncak kejayaan pertama diraih pada 1958 dengan medali perunggu berkat 13 gol Just Fontaine. Era Michel Platini membawa mereka ke semifinal pada 1982 dan 1986, meski gagal juara. Baru pada 1998, Zinedine Zidane mempersembahkan gelar pertama di kandang sendiri. Setelah kegagalan di 2002 dan 2010, Deschamps membangun kembali tim hingga juara 2018.
Bagi Indonesia, perjalanan Prancis menjadi cerminan pentingnya konsistensi pembinaan. Timnas Garuda, yang tengah berjuang menembus Piala Dunia, bisa belajar dari sistem sepak bola Prancis yang mampu melahirkan bakat secara berkelanjutan. Keberhasilan Mbappe, Olise, dan Doue menunjukkan bahwa investasi pada akademi dan kompetisi domestik berbuah manis. Jika Indonesia ingin bersaing di level global, kesabaran dan perencanaan jangka panjang seperti yang dilakukan Prancis menjadi kunci.
Mbappe, yang telah mengoleksi 12 gol dalam dua edisi terakhir, berpeluang memecahkan rekor 13 gol Fontaine di Piala Dunia 2026. Jika Prancis melaju hingga semifinal, ia bisa melampaui catatan Hugo Lloris sebagai pemain dengan penampilan terbanyak di Piala Dunia (20 laga). Pertanyaannya, mampukah Deschamps mengelola tekanan dan membawa Prancis kembali ke puncak? Atau justru kegagalan di Qatar akan terulang?



