FIFA Tentukan Nasib 18 Jersey Piala Dunia yang Tak Dipakai di Fase Grup
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 18 dari 108 jersey tim nasional untuk Piala Dunia 2026 dipastikan tak akan digunakan di fase grup karena keputusan FIFA.
- Ghana dan Uzbekistan menjadi dua negara yang justru tidak mengenakan jersey kandang mereka di tiga laga awal, sementara 12 tim lain mengabaikan jersey tandang.
- Enam jersey tandang yang masuk daftar terbaik versi BBC Sport berpotensi hanya jadi koleksi jika timnya gagal lolos ke babak selanjutnya.

FIFA telah mengumumkan daftar jersey yang akan dikenakan setiap tim selama 72 pertandingan fase grup Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Dari total 108 kostum yang dirilis oleh 48 negara peserta—tidak termasuk jersey kiper—sebanyak 87 di antaranya dipastikan tampil setidaknya sekali. Namun, 18 jersey lainnya terancam hanya menjadi pajangan di etalase toko atau lemari pemain, tanpa pernah dikenakan di lapangan hijau.
Keputusan ini memicu kehebohan di kalangan kolektor dan penggemar sepak bola, terutama karena beberapa jersey yang tidak terpilih justru masuk dalam daftar kostum terbaik edisi Piala Dunia tahun ini. Enam dari 12 jersey tandang yang absen di fase grup sebelumnya masuk dalam daftar pendek BBC Sport sebagai yang paling menarik, termasuk milik Austria, Belgia, Curacao, Jepang, Pantai Gading, dan Afrika Selatan. Ironisnya, tanpa kejutan di babak gugur, jersey-jersey tersebut tidak akan pernah terlihat di turnamen.
Fenomena ini bukan sekadar soal estetika. Di balik layar, keputusan FIFA tentang kombinasi warna jersey—yang bertujuan menghindari benturan seragam—telah mengubah strategi pemasaran apparel. Setiap negara biasanya merilis dua kostum utama (kandang dan tandang), ditambah jersey ketiga bagi 12 tim yang memilih opsi tersebut. Namun, hanya Kanada, Tanjung Verde, Meksiko, dan Panama yang akan menggunakan ketiga jersey mereka di fase grup. Sementara Inggris dan Skotlandia, yang masing-masing hanya memiliki dua jersey, akan memakai keduanya.
Yang menarik, Ghana dan Uzbekistan justru tidak akan mengenakan jersey kandang mereka di tiga pertandingan awal. Sebaliknya, Australia, Austria, Belgia, Curacao, DR Kongo, Iran, Pantai Gading, Jepang, Belanda, Portugal, Senegal, dan Afrika Selatan harus merelakan jersey tandang mereka tidak terpakai. Sementara Ekuador, Haiti, Irak, dan Yordania mengubur jersey ketiga mereka. Bagi para kolektor, jersey-jersey ini mungkin menjadi barang langka, tetapi bagi tim, ini adalah keputusan teknis yang tak terhindarkan.
Bagi Indonesia, berita ini relevan karena semakin populernya budaya koleksi jersey sepak bola di tanah air. Banyak penggemar yang membeli jersey tim favorit mereka, termasuk jersey ketiga yang eksklusif. Jika jersey tersebut tidak pernah dipakai di turnamen, nilai koleksinya bisa naik, tetapi juga menimbulkan kekecewaan. Selain itu, keputusan FIFA ini mengingatkan bahwa di balik gemerlap Piala Dunia, ada aturan ketat yang kadang mengorbankan aspek komersial dan estetika.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah FIFA akan mempertimbangkan ulang kebijakan ini untuk turnamen mendatang? Atau justru sebaliknya, semakin banyak tim yang merilis jersey ketiga hanya untuk memenuhi selera pasar, meski berisiko tidak dipakai? Yang jelas, bagi Curacao—yang akan debut di Piala Dunia—jersey tandang mereka yang paling populer di mata pembaca BBC Sport mungkin hanya akan dikenang sebagai kenangan manis sebelum turnamen dimulai.



