Nasib Nordic Combined dan Parallel Giant Slalom di Olimpiade 2030: Antara Tradisi dan Regenerasi
Baca dalam 60 detik
- IOC akan memutuskan cabang olahraga untuk Olimpiade Musim Dingin 2030 pada 24-25 Juni, dengan Nordic combined dan parallel giant slalom terancam dicoret karena minim partisipasi dan tontonan.
- Nordic combined, satu-satunya cabang tanpa atlet putri di Milan-Cortina 2026, dinilai tidak sejalan dengan komitmen kesetaraan gender IOC, sementara PGS dianggap kurang menarik bagi generasi muda.
- Freeriding dan panjat es menjadi kandidat pengganti, menandai pergeseran IOC menuju olahraga yang lebih spektakuler dan relevan dengan demografi baru.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) akan menggelar sidang krusial pada 24-25 Juni di Lausanne, Swiss, untuk menentukan susunan cabang olahraga Olimpiade Musim Dingin 2030 yang akan berlangsung di Alpen Prancis. Dua cabang tradisional, Nordic combined dan snowboard parallel giant slalom (PGS), berada dalam ancaman pencoretan karena dianggap kurang kompetitif dalam hal jumlah peserta dan daya tarik penonton, seiring prioritas IOC pada olahraga yang lebih populer di kalangan anak muda.
Nordic combined, yang menggabungkan lompat ski dan ski lintas alam, merupakan salah satu disiplin tertua dalam sejarah Olimpiade Musim Dingin—telah hadir sejak Chamonix 1924. Namun, prestise historis itu tidak cukup menyelamatkannya. Pada Milan-Cortina 2026, Nordic combined menjadi satu-satunya cabang yang tidak mempertandingkan nomor putri, sebuah anomali di tengah dorongan kuat IOC menuju kesetaraan gender. Meskipun atlet putri telah berkompetisi di level lain, upaya untuk memasukkan mereka ke panggung Olimpiade belum membuahkan hasil.
“Jika Olimpiade adalah tentang atlet terbaik dan tantangan terberat, maka Nordic combined seharusnya berkembang, bukan menghadapi ketidakpastian,” ujar Ilkka Herola, peraih dua medali di Milan-Cortina 2026. Pernyataan itu mencerminkan kegelisahan komunitas olahraga yang melihat tradisi panjang terancam oleh tuntutan modernisasi.
Sementara itu, parallel giant slalom—format head-to-head di jalur identik yang pertama kali dipertandingkan di Salt Lake City 2002—juga menghadapi risiko serupa. Alex Payer, atlet Olimpiade tiga kali, membela cabang ini dengan menyebutnya sebagai salah satu format paling adil dalam olahraga. “Jika PGS dikeluarkan dari program Olimpiade, Anda menghilangkan salah satu ekspresi kompetisi paling murni yang kami miliki,” katanya. Namun, IOC tampaknya lebih tertarik pada olahraga yang menawarkan tontonan lebih spektakuler dan mudah dicerna audiens muda.
Dua kandidat utama pengganti adalah freeriding dan panjat es. Freeriding memberi kebebasan kepada pemain ski dan snowboarder untuk memilih jalur off-piste sendiri dari puncak hingga dasar, sambil melakukan trik—dinilai berdasarkan kesulitan lintasan, lompatan, dan performa. Sementara panjat es, yang memanjat air terjun beku atau gletser, memiliki varian kecepatan yang dianggap paling potensial untuk diadopsi. Spekulasi awal tentang masuknya cyclo-cross langsung dipatahkan oleh Presiden IOC Kirsty Coventry yang menegaskan tidak ada cabang musim panas atau olahraga lintas musim yang akan dipertimbangkan.
Bagi Indonesia, meskipun tidak terlibat langsung dalam Olimpiade Musim Dingin, keputusan IOC ini relevan sebagai cerminan tren global dalam industri olahraga. Pergeseran dari cabang tradisional ke olahraga ekstrem dan spektakuler mencerminkan perubahan preferensi penonton yang lebih mengutamakan adrenalin dan visualisasi instan. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi pengembangan olahraga di Tanah Air, terutama dalam menarik minat generasi muda melalui format kompetisi yang inovatif dan atraktif.
Keputusan IOC pada akhir Juni nanti akan menjadi sinyal jelas: apakah Olimpiade Musim Dingin tetap setia pada akar sejarahnya, atau justru berani beradaptasi dengan selera pasar yang terus berubah. Pertanyaan besarnya, mampukah tradisi bertahan di tengah deru modernisasi?



