Pelatih Belgia: Piala Dunia Tanpa Italia Tak Lagi Sama, Tiru Model Prancis
Baca dalam 60 detik
- Rudi Garcia menyesalkan absennya Italia di Piala Dunia 2026 untuk ketiga kalinya berturut-turut.
- Pelatih Belgia itu menyarankan FIGC meniru kesuksesan Prancis dalam pembinaan pemain muda.
- Italia akan menghadapi Belgia di Nations League September mendatang dengan pelatih baru.

Pelatih tim nasional Belgia, Rudi Garcia, mengakui bahwa Piala Dunia tanpa kehadiran Italia kehilangan gairahnya. Dalam wawancara dengan Gazzetta dello Sport, Garcia yang juga berdarah Italia menyebutkan bahwa absennya Gli Azzurri untuk ketiga kalinya secara beruntun merupakan pukulan berat bagi turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.
Garcia, yang sebelumnya menukangi AS Roma dan Napoli, akan memimpin Belgia di Piala Dunia 2026. Namun, ia tak bisa menyembunyikan kekecewaannya karena Italia gagal lolos. "Sebagai orang Italia, saya sangat sedih. Turnamen sebesar ini tanpa kalian tidaklah sama," ujar Garcia. Ia berharap kegagalan ini menjadi momentum bagi Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk melakukan pembenahan mendasar.
Menurut Garcia, Italia perlu meniru model pengembangan pemain muda yang diterapkan Prancis. "Saya bukan orang yang tepat untuk memberi nasihat, tetapi melihat apa yang telah dilakukan Prancis, saya pikir sudah saatnya bekerja pada fondasi dan mengembangkan bakat muda," tegasnya. Prancis sukses melahirkan generasi emas berkat sistem akademi yang terstruktur, seperti Clairefontaine, yang menjadi kiblat pembinaan usia dini.
Kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia juga menjadi sorotan di Indonesia, di mana sepak bola Italia memiliki basis penggemar yang besar. Banyak pengamat sepak bola Tanah Air menilai bahwa krisis yang dialami Italia merupakan pelajaran berharga bagi pengembangan sepak bola nasional. Sistem pembinaan usia muda yang lemah dan ketergantungan pada pemain naturalisasi menjadi kelemahan struktural yang juga dihadapi Indonesia. Model Prancis yang mengedepankan akademi berjenjang dan kompetisi internal ketat bisa menjadi referensi bagi PSSI.
Sementara itu, masa depan Garcia di kursi pelatih Belgia masih belum pasti. Kontraknya akan berakhir setelah Piala Dunia, dan ia mengaku akan mengevaluasi kariernya. "Kita lihat saja nanti. Akan menyenangkan jika masih bertahan. Namun untuk saat ini, saya fokus pada Piala Dunia. Emosi yang unik," ucapnya. Pertandingan Nations League melawan Italia pada September mendatang bisa menjadi ajang pembuktian bagi kedua tim, terutama bagi Italia yang tengah dalam masa transisi.
Dengan pelatih baru yang akan diumumkan setelah pemilihan presiden FIGC, Italia dihadapkan pada tugas berat untuk membangun kembali kejayaan. Pertanyaan besarnya: mampukah Italia bangkit dan kembali ke panggung Piala Dunia, atau justru akan semakin terpuruk dalam persaingan sepak bola global?



