Duel Dua Legenda: O'Neill vs Keane Berebut Kursi Pelatih Celtic
Baca dalam 60 detik
- Martin O'Neill dan Robbie Keane menjadi dua kandidat utama pelatih permanen Celtic setelah musim yang penuh gejolak.
- O'Neill sukses membawa Celtic meraih double domestik di usia 74 tahun, namun mengaku lelah dan mungkin hanya bertahan semusim lagi.
- Keane, meski gagal mempertahankan gelar liga Hungaria, impresif di Eropa dan dianggap sebagai opsi jangka panjang yang lebih muda.

Celtic tengah berada di persimpangan jalan. Dua nama besar, Martin O'Neill dan Robbie Keane, disebut-sebut sebagai kandidat terdepan untuk mengisi kursi pelatih permanen yang kosong. Keputusan ini akan menentukan arah klub Skotlandia itu di musim panas yang krusial, terutama dalam mempertahankan dominasi domestik dan membangun kembali skuad.
O'Neill, yang kini berusia 74 tahun, baru saja menyelesaikan tugas interim keduanya musim ini dengan gemilang. Ia membawa Celtic meraih gelar Liga Utama Skotlandia dan Piala Skotlandia, sebuah pencapaian yang mengesankan mengingat musim yang kacau—dua pelatih sebelumnya, Brendan Rodgers dan Wilfried Nancy, hengkang di tengah jalan. Namun, setelah mengangkat trofi di Hampden Park, O'Neill tampak kelelahan dan secara terbuka mengakui bahwa ia mungkin bukan pilihan jangka panjang. "Jika musim dimulai minggu depan, saya tidak sanggup melanjutkan," ujarnya, seraya menambahkan bahwa Celtic mungkin mencari sosok yang lebih muda.
Di sisi lain, Robbie Keane, 45 tahun, menawarkan profil yang lebih segar. Mantan striker Timnas Republik Irlandia itu memulai karier kepelatihannya di Maccabi Tel Aviv (Israel) pada 2023 dan sukses meraih gelar liga. Ia kemudian pindah ke Ferencvaros pada Januari 2025 dan membawa klub Hungaria itu meraih gelar juara ketujuh beruntun. Namun musim ini, meski memiliki anggaran tiga kali lipat dari kompetitor, Ferencvaros gagal mempertahankan mahkota liga—kalah tipis satu poin dari ETO Gyor. Sebagai kompensasi, mereka memenangkan Piala Hungaria.
Yang membuat Keane menarik adalah performa Ferencvaros di pentas Eropa. Setelah tersingkir dari play-off Liga Champions, mereka tampil gemilang di Europa League. Keane membawa timnya ke peringkat 12 di fase liga, mengalahkan Rangers, Genk, RB Salzburg, dan Ludogorets, serta bermain imbang di kandang Fenerbahce. Satu-satunya kekalahan mereka adalah dari Nottingham Forest yang akhirnya menjadi semifinalis. Keane menerapkan formasi 3-5-2 dengan filosofi menyerang. "Saya tidak suka bek tengah saya menyimpan bola hanya demi menyimpan bola," katanya, menggambarkan pendekatan agresifnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, persaingan ini memiliki resonansi tersendiri. O'Neill adalah simbol manajer kawakan yang mengandalkan pengalaman dan kharisma, mirip dengan sosok seperti Luis Milla atau Shin Tae-yong di kancah Asia. Sementara Keane mewakili generasi baru pelatih muda yang berani mengambil risiko di luar negeri, seperti Patrick Kluivert atau bahkan pelatih lokal yang mulai merambah Eropa. Keputusan Celtic bisa menjadi cermin bagaimana klub besar menyeimbangkan antara stabilitas dan inovasi.
O'Neill telah memperkuat status legendanya di Celtic sejak era pertamanya berakhir pada 2005. Ia dibantu oleh asisten Shaun Maloney dan Mark Fotheringham, dan trio ini bisa kembali bekerja sama untuk satu musim lagi. Namun, jika Celtic memilih Keane, ia kemungkinan akan didampingi oleh mantan kapten Celtic Scott Brown, pelatih muda Jonny Hayes, atau mantan manajer Aberdeen Stephen Glass yang telah bersamanya di Hungaria.
Pendukung Celtic pun terbelah. Sebagian menginginkan O'Neill bertahan satu musim lagi sambil mempersiapkan suksesor, seperti Maloney. Sebagian lain melihat Keane sebagai pilihan berani yang bisa membawa perubahan jangka panjang, meski ada kekhawatiran tentang penerimaannya oleh sebagian kecil suporter. Pertanyaan besarnya: akankah dewan Celtic mengambil jalan aman dengan O'Neill, atau berani melangkah ke era baru bersama Keane? Atau, mungkinkah keduanya bisa bekerja sama—O'Neill sebagai manajer dan Keane sebagai asisten atau penerus yang disiapkan? Hanya waktu yang akan menjawab, namun keputusan ini akan menentukan nasib Celtic di musim depan dan seterusnya.



