Pasar Semikonduktor Global Diprediksi Tembus Rekor US$1,51 Triliun pada 2026, Didorong Investasi AI
Baca dalam 60 detik
- World Semiconductor Trade Statistics merevisi proyeksi pertumbuhan pasar chip global menjadi 89,9% pada 2026, jauh melampaui estimasi sebelumnya.
- Memori dan logika semikonduktor menjadi pendorong utama, dengan pasar memori diperkirakan melonjak 3,5 kali lipat menjadi US$803,94 miliar.
- Indonesia perlu mengantisipasi dampak rantai pasok dan peluang investasi di tengah booming AI global yang mendorong ekspansi data center.

Pasar semikonduktor global diproyeksikan melonjak 89,9% pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai rekor US$1,51 triliun. Lonjakan ini didorong oleh investasi besar-besaran perusahaan di seluruh dunia dalam memenuhi permintaan kecerdasan buatan (AI) yang tumbuh pesat, menurut laporan terbaru World Semiconductor Trade Statistics (WSTS) yang dirilis Selasa (3/6).
WSTS, organisasi yang beranggotakan produsen chip utama, secara drastis merevisi proyeksi sebelumnya yang dirilis Desember lalu, di mana pertumbuhan hanya diperkirakan 26,3% menjadi US$975,46 miliar. Revisi ini mencerminkan ekspektasi bahwa ekspansi pusat data akan berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal. Jika terealisasi, tingkat pertumbuhan ini akan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah industri semikonduktor.
Berdasarkan jenis produk, chip memori yang digunakan untuk penyimpanan data diperkirakan melonjak sekitar 3,5 kali lipat menjadi US$803,94 miliar. Kioxia Holdings Corp., produsen chip memori asal Jepang, bahkan memproyeksikan laba bersihnya pada April-Juni 2026 akan meningkat lebih dari 47 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, semikonduktor logika yang berfungsi sebagai otak perangkat elektronik diprediksi tumbuh 37,3% menjadi US$411,37 miliar.
Secara regional, Amerika diproyeksikan mencatat pertumbuhan tertinggi dengan lebih dari dua kali lipat menjadi US$543,65 miliar. Kawasan Asia-Pasifik menyusul dengan pertumbuhan 87,4% menjadi US$823,90 miliar, menjadikannya pasar terbesar secara nilai. Eropa diperkirakan naik 58,4% menjadi US$86,64 miliar, sementara Jepang tumbuh 27,6% menjadi US$57,05 miliar. Proyeksi untuk 2027 menunjukkan pasar global masih akan tumbuh 26,6% menjadi US$1,91 triliun, didorong investasi AI yang kuat dan permintaan di sektor lain seperti otomotif.
Bagi Indonesia, lonjakan permintaan chip global membawa implikasi ganda. Di satu sisi, Indonesia sebagai importir besar perangkat elektronik dan komponen akan menghadapi tekanan harga akibat kelangkaan pasokan. Di sisi lain, peluang investasi di sektor hilir seperti perakitan dan pengemasan chip (assembly and testing) terbuka lebar, mengingat banyak perusahaan global mulai mendiversifikasi rantai pasok keluar dari China. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian telah mendorong pengembangan ekosistem semikonduktor, namun realisasi investasi masih terbatas dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam.
Pertumbuhan pasar chip yang eksplosif ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan pasokan bahan baku, terutama rare earth dan gas khusus yang banyak dikuasai oleh segelintir negara. Indonesia yang memiliki cadangan nikel dan bauksit melimpah berpotensi menjadi pemasok material penting untuk industri semikonduktor, namun hal itu membutuhkan investasi besar dalam pemurnian dan pengolahan. Ke depan, apakah Indonesia mampu memanfaatkan momentum ini untuk naik kelas dalam rantai nilai global, atau justru kembali menjadi pasar konsumen semata?



