Goldman Sachs Ramal Pendapatan AI SpaceX Tembus Rp5.000 Triliun pada 2030
Baca dalam 60 detik
- Goldman Sachs memproyeksikan pendapatan divisi kecerdasan buatan SpaceX melonjak 100 kali lipat menjadi 322 miliar dolar AS pada 2030.
- IPO SpaceX yang menargetkan dana 75 miliar dolar AS dengan valuasi 1,75 triliun dolar AS akan menjadi yang terbesar dalam sejarah pasar modal global.
- Analis Morningstar meragukan valuasi setinggi itu, menilai prospek bisnis AI SpaceX masih diselimuti ketidakpastian persaingan dengan OpenAI dan Anthropic.
Goldman Sachs memperkirakan pendapatan dari lini bisnis kecerdasan buatan (AI) milik SpaceX akan melesat seratus kali lipat dalam lima tahun ke depan, dari 3,2 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 322 miliar dolar AS pada 2030. Proyeksi yang dibagikan bank investasi tersebut kepada calon investor ini terungkap dalam laporan Financial Times, Kamis (5/6).
Tak hanya sektor AI, Goldman juga memprediksi total pendapatan perusahaan antariksa milik Elon Musk itu akan melonjak dari 18,7 miliar dolar AS tahun lalu menjadi 474 miliar dolar AS pada 2030. Angka ini mencerminkan pertumbuhan lebih dari 25 kali lipat dalam kurun waktu setengah dekade, didorong oleh ekspansi bisnis roket, satelit Starlink, dan terutama AI.
Rincian proyeksi menunjukkan pendapatan AI SpaceX pada 2026 diperkirakan mencapai 15,6 miliar dolar AS—naik 388 persen dari tahun sebelumnya—dan terus meroket menjadi 34,5 miliar dolar AS pada 2027. Goldman Sachs, yang bertindak sebagai penjamin emisi utama, bersama Morgan Stanley, BofA Securities, Citigroup, dan J.P. Morgan, tengah mempersiapkan IPO terbesar dalam sejarah.
SpaceX telah menetapkan harga saham IPO sebesar 135 dolar AS per lembar dan memulai roadshow pada Rabu (4/6). Harga final diperkirakan diumumkan pada 11 Juni, dan perdagangan saham akan dimulai di Nasdaq pada 12 Juni. Dengan valuasi 1,75 triliun dolar AS, SpaceX langsung masuk jajaran sepuluh perusahaan publik paling bernilai di Amerika Serikat.
Antusiasme investor diprediksi tinggi, mengingat rekam jejak Elon Musk yang kerap melampaui ekspektasi. Namun, tidak semua pihak seoptimis Goldman. Analis Morningstar menilai valuasi wajar SpaceX hanya sekitar 780 miliar dolar AS—kurang dari setengah target IPO. Mereka menyoroti ketidakpastian fundamental bisnis AI SpaceX yang mencakup xAI dan platform media sosial X. Persaingan ketat dengan OpenAI dan Anthropic, serta model ekonomi yang belum jelas, menjadi faktor risiko utama.
Bagi pasar Indonesia, IPO SpaceX menjadi barometer minat investor global terhadap sektor antariksa dan AI. Meski tak ada dampak langsung, kesuksesan IPO ini bisa membuka peluang bagi perusahaan rintisan (startup) dalam negeri yang bergerak di bidang teknologi satelit dan kecerdasan buatan untuk menarik minat investor asing. Regulator pasar modal Indonesia juga perlu mencermati tren valuasi tinggi ini sebagai sinyal potensi gelembung (bubble) di sektor teknologi.
Pertanyaan besarnya: akankah valuasi setinggi langit itu terwujud, atau justru menjadi cerminan euforia yang berlebihan? Jawabannya akan mulai terlihat saat saham SpaceX resmi diperdagangkan pekan depan.



