Serangan Rudal dan Drone Rusia Hantam Ukraina, 11 Tewas dan Puluhan Terjebak Reruntuhan
Baca dalam 60 detik
- Rusia meluncurkan 73 rudal dan 656 drone ke Ukraina dalam serangan semalam, menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai puluhan lainnya.
- Kyiv, Dnipro, dan Kharkiv menjadi sasaran utama, dengan kerusakan parah pada bangunan tempat tinggal dan infrastruktur sipil.
- Ukraina kembali mendesak sekutu untuk memasok lebih banyak sistem pertahanan udara guna menghadapi ancaman rudal balistik yang sulit diintersep.

Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran ke Ukraina pada Selasa (2/6) dini hari, menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai puluhan lainnya, sementara sejumlah warga masih terperangkap di bawah reruntuhan bangunan yang hancur. Gelombang serangan yang menggabungkan rudal dan drone ini menjadi yang terbesar dalam beberapa pekan terakhir, menargetkan sejumlah kota besar di Ukraina.
Menurut Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan 73 rudal dan 656 drone ke berbagai wilayah. Sistem pertahanan udara Ukraina berhasil menembak jatuh 40 rudal dan 602 drone, namun sisanya mencapai sasaran. Setidaknya 30 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan 33 drone tercatat menghantam 38 lokasi berbeda. Puing-puing drone yang hancur juga jatuh di 15 titik, menambah kerusakan di area pemukiman.
Di ibu kota Kyiv, serangan menewaskan empat orang dan melukai 63 lainnya, termasuk tiga anak-anak. Delapan distrik di Kyiv mengalami kerusakan pada bangunan tempat tinggal dan infrastruktur sipil. Di distrik Podilskyi, lantai atas sebuah gedung sembilan lantai rusak parah, menjebak penghuni di bawah puing. Operasi penyelamatan masih berlangsung hingga pagi hari meski sirene serangan udara masih berbunyi. Sementara itu, di distrik Solomianskyi, dua gedung bertingkat—masing-masing 20 dan 24 lantai—turut rusak.
Di kota Dnipro, wilayah Dnipropetrovsk, enam orang tewas dan 36 lainnya luka-luka. Seorang petugas penyelamat tewas dalam serangan kedua yang menyasar tim pertama yang tiba di lokasi. Di Kharkiv, sedikitnya 14 orang terluka, sementara rumah-rumah, garasi, dan kendaraan rusak. Sebuah bangunan tempat tinggal dua lantai dan sebagian gedung apartemen empat lantai hancur, dengan warga terjebak di bawah reruntuhan.
Olena Dniprovska, 65, dan suaminya Yevhen, 64, menjadi saksi keganasan serangan itu. Saat berada di apartemen mereka di distrik Podilskyi, ledakan dahsyat menghancurkan rumah mereka. "Saya keluar ke koridor dengan telepon, dan sebelum saya sadar apa yang terjadi, semuanya jatuh menimpa kepala saya—kaca, pintu terhempas," ujar Olena dengan wajah berlumuran darah kering dan perban di dagunya. "Saya lari ke pintu depan dan mulai memanggil suami dari kamar, tapi dia juga terhempas oleh gelombang ledakan. Sekarang saya tidak punya tempat tinggal, apartemen hancur total, tidak ada pintu, jendela, atau balkon. Anda bisa melangkah langsung dari kamar ke jalan."
Serangan ini terjadi setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan warga selama beberapa hari terakhir bahwa Rusia sedang mempersiapkan serangan baru. Ia mendesak warga untuk tetap waspada dan segera berlindung saat sirene berbunyi. Ledakan terdengar menggema sepanjang malam hingga pagi hari, menandai eskalasi terbaru dalam perang yang telah berlangsung lebih dari setahun.
Ukraina terus mendesak negara-negara sekutu untuk mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara, terutama rudal pencegat untuk menghadapi rudal balistik Rusia. Meskipun Ukraina mampu menembak jatuh sebagian besar drone, rudal balistik tetap menjadi ancaman serius karena kecepatan dan lintasannya yang sulit diintersep. Kekurangan amunisi pertahanan udara menjadi kerentanan utama yang kerap disebut oleh para pejabat Ukraina.
Bagi Indonesia, konflik ini kembali mengingatkan pentingnya kemandirian sistem pertahanan dan kewaspadaan terhadap ancaman siber serta serangan asimetris. Meskipun secara geografis jauh, eskalasi perang di Ukraina berdampak pada rantai pasok global, termasuk harga energi dan pangan yang memengaruhi perekonomian nasional. Serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur juga menegaskan urgensi penegakan hukum humaniter internasional.
Ke depan, seberapa cepat Ukraina dapat memperkuat pertahanan udaranya akan menentukan kemampuan negara itu untuk melindungi kota-kota besarnya. Tanpa pasokan rudal pencegat yang memadai, serangan seperti ini berpotensi terus berulang, menimbulkan lebih banyak korban jiwa dan kerusakan. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah sekutu NATO merespons dengan pengiriman sistem pertahanan yang lebih canggih, atau Ukraina harus bertahan dengan sumber daya yang terbatas?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6493867/original/025420800_1779351314-unnamed__6_.jpg)

