Sunderland Incar 'Mini Xhaka' asal Aljazair untuk Hadapi Jadwal Padat
Baca dalam 60 detik
- Sunderland dikabarkan mengincar gelandang tengah Charleroi, Yassine Titraoui, sebagai pelapis Granit Xhaka yang berusia 34 tahun.
- Klub asal Liga Premier itu harus mengelola beban pertandingan setelah lolos ke Liga Europa, dan Titraoui dinilai memiliki profil serupa dengan Xhaka.
- Persaingan dengan Marseille tak menghalangi minat Titraoui, yang lebih tertarik bermain di Premier League dan Europa League.
Sunderland bersiap menghadapi musim padat setelah memastikan tiket ke Liga Europa. Manajer Regis Le Bris kini membutuhkan kedalaman skuad, terutama di lini tengah, untuk menjaga performa tim. Gelandang veteran Granit Xhaka yang berusia 34 tahun tak bisa terus-menerus dimainkan di semua ajang. Klub asal Wearside itu pun dikabarkan telah mengidentifikasi calon pengganti yang ideal: gelandang muda Charleroi, Yassine Titraoui.
Menurut jurnalis Sebastien Vidal, Sunderland termasuk salah satu klub yang memantau perkembangan Titraoui. Gelandang berusia 22 tahun itu dibanderol sekitar £9,5 juta oleh klub Belgia tersebut. Angka itu dinilai terjangkau bagi Sunderland yang baru saja menikmati pendapatan dari partisipasi di kompetisi Eropa. Namun, Sunderland tak sendirian. Marseille, klub Ligue 1, juga dikabarkan tertarik memboyong pemain Timnas Aljazair itu.
Meski ada persaingan, Titraoui dikabarkan lebih condong ke Sunderland. Keinginan bermain di Premier League dan Liga Europa menjadi daya tarik utama. Faktor ini bisa menjadi keunggulan bagi Sunderland dalam negosiasi. Apalagi, klub asal Inggris itu membutuhkan pemain yang siap menjadi pelapis sekaligus belajar dari Xhaka.
Perbandingan statistik menunjukkan bahwa Titraoui memiliki kemiripan dengan Xhaka, terutama dalam hal distribusi bola dan kontribusi defensif. Expected assist (xA) keduanya hampir identik, meski rekan setim Sunderland lebih klinis dalam memanfaatkan peluang. Hal ini mengindikasikan bahwa Titraoui mampu menjadi kreator serangan seperti Xhaka. Selain itu, ia digambarkan sebagai pemain agresif oleh pakar sepak bola muda Alfred Frank, dengan mobilitas dan fisik yang mumpuni untuk mengganggu serangan lawan.
Bagi Sunderland, merekrut Titraoui bukan hanya soal mencari pengganti jangka pendek. Dengan jadwal yang padat—minimal 38 laga Premier League dan 8 pertandingan Liga Europa—manajemen beban pemain menjadi krusial. Xhaka tak bisa terus bermain penuh setiap pekan. Titraoui bisa menjadi solusi rotasi, terutama di laga Eropa dan pertandingan tengah pekan. Ini juga memberi kesempatan bagi pemain muda itu untuk beradaptasi secara bertahap.
“Titraoui memiliki potensi menjadi versi mini Xhaka jika ia mampu beradaptasi dengan sepak bola Inggris,” tulis analis dalam laporan yang dikutip Football FanCast.
Namun, risiko tetap ada. Titraoui belum pernah bermain di Premier League. Ia masih mentah dan butuh waktu untuk berkembang. Sunderland tak bisa langsung menuntutnya menjadi bintang. Justru di sinilah letak strategi klub: merekrut pemain muda dengan potensi tinggi sebagai investasi jangka panjang, sambil memanfaatkannya sebagai pelapis musim ini. Jika Titraoui mampu menyesuaikan diri, Sunderland bisa memiliki tandem lini tengah yang solid untuk beberapa musim ke depan.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Sunderland mampu memenangi persaingan dengan Marseille? Atau akankah faktor Premier League dan Liga Europa cukup meyakinkan Titraoui memilih Wearside? Keputusan akhir ada di tangan pemain dan klub, namun langkah Sunderland menunjukkan keseriusan mereka membangun skuad kompetitif di kancah Eropa.



