Deschamps Bidik Sejarah di Piala Dunia 2026: Final Ketiga Beruntun dan Gelar Kedua sebagai Pelatih
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Prancis Didier Deschamps akan memimpin timnya di Piala Dunia 2026, yang merupakan turnamen terakhirnya, dengan target menjadi pelatih pertama yang mencapai tiga final beruntun dan dua kali juara.
- Prancis diunggulkan berkat lini serang tajam yang diperkuat Mbappe, Dembele, dan Olise, namun Deschamps mewaspadai kurangnya pengalaman pemain muda di turnamen besar.
- Laga pembuka melawan Senegal mengingatkan pada kekalahan mengejutkan di 2002, tetapi Deschamps menolak istilah balas dendam dan fokus pada tantangan saat ini.
Didier Deschamps, pelatih tim nasional Prancis, mengincar pencapaian yang belum pernah diraih siapapun dalam sejarah Piala Dunia: menjadi orang pertama yang memenangkan turnamen dua kali sebagai pelatih dan satu kali sebagai pemain, sekaligus mencapai tiga final beruntun. Target itu akan diuji di Piala Dunia 2026, yang juga menjadi turnamen terakhirnya menukangi Les Bleus.
Pria yang akrab disapa DD itu telah mengukir namanya bersama Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer sebagai satu-satunya individu yang pernah juara Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih. Namun, jika Prancis mampu melaju ke final dan menang pada 19 Juli mendatang, Deschamps akan melangkah lebih jauh: ia akan menjadi pelatih pertama yang tampil di tiga final Piala Dunia berturut-turut (2018, 2022, 2026) sekaligus mengoleksi dua gelar sebagai arsitek tim.
“Saya hanya memikirkan hari ini dan besok. Itulah saya,” ujar Deschamps dalam wawancara dengan FIFA. “Apa yang terjadi di 1998 dan 2018 akan selalu bersama saya, tapi masa lalu tak bisa diubah. Yang penting adalah apa yang kami lakukan selanjutnya.” Meski telah meraih berbagai trofi di level klub, termasuk Liga Champions, ia mengakui tak ada yang mengalahkan status juara dunia. “Nama Anda tetap sama, tapi dua kata ditambahkan selamanya: juara dunia.”
Prancis kembali diunggulkan, seperti halnya di Qatar 2022. “Kami membangun ekspektasi lewat hasil,” kata Deschamps. “Kami juara 2018 dan finalis 2022, jadi suami wajar berharap kami masih bertahan hingga pertengahan Juli. Kami salah satu dari 10 atau 12 negara yang realistis bisa menjadi juara dunia. Tapi hanya satu yang jadi juara; setidaknya 11 negara akan kecewa.”
Untuk menjaga asa, Les Bleus harus melewati fase grup yang berat. Norwegia dan Irak dianggap sebagai lawan tangguh, namun laga pembuka melawan Senegal yang paling krusial. Pertandingan itu langsung mengingatkan pada Piala Dunia 2002, ketika Prancis yang bertabur bintang kalah 1-0 dari Singa Teranga. “Saat itu, pemain saya sekarang belum lahir atau terlalu kecil untuk mengerti,” kata Deschamps menepis isu balas dendam. “Tidak ada dendam dalam olahraga. Itu sejarah. Ini babak baru. Senegal adalah negara sepak bola top di Afrika.”
Beruntung, Deschamps memiliki lini serang eksplosif. Ousmane Dembele, peraih The Best FIFA Player of the Year 2025, membantu PSG mempertahankan gelar Liga Champions. Michael Olise tampil impresif bersama Bayern Munchen, sementara Kylian Mbappe kembali memuncaki daftar pencetak gol Liga Champions dengan 15 gol. Pemain seperti Desire Doue, Rayan Cherki, dan Marcus Thuram juga bersaing memperebutkan tempat di lini depan. “Mereka tak semuanya bisa main,” peringat Deschamps. “Banyak potensi, tapi kami butuh kimia yang tepat, tanpa ego individu. Kami butuh keseimbangan, kompatibilitas, dan kerja sama.”
Meski bertabur bintang, Deschamps tetap waspada. “Sepak bola bisa menjatuhkan Anda jika Anda merasa sudah sampai di puncak,” katanya. Ia juga menyoroti kurangnya pengalaman pemain muda di turnamen besar. “Di 2018, pemain yang ada sudah merasakan 2014 dan 2016. Sekarang, saya punya banyak pemain muda dengan pengalaman terbatas di kompetisi besar.”
Bagi Deschamps, tugasnya adalah memastikan para pemain memberikan segalanya. “Saat mereka memakai seragam ini, ada tanggung jawab,” tegasnya. “Sejak hari pertama 14 tahun lalu, saya bilang, ‘Saat Anda bergabung dengan tim nasional Prancis, Anda tidak datang untuk mengambil. Anda datang untuk memberi.’”
Setelah Piala Dunia 2026, Deschamps mengaku belum memikirkan langkah selanjutnya. “Tim nasional Prancis telah membentuk hidup saya lebih dari apa pun, 25 tahun total—11 tahun di lapangan, 14 tahun di bangku pelatih. Ini hal terbaik yang pernah terjadi pada saya. Saya ragu akan menemukan yang lebih baik. Tapi, siapa tahu...”
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Prancis di Piala Dunia 2026 patut disimak. Selain menyaksikan bakat-bakat terbaik dunia, kisah Deschamps menunjukkan pentingnya konsistensi dan manajemen tim dalam menghadapi turnamen multi-tahun. Akankah ia mampu menuliskan sejarah baru, atau justru gagal di tengah jalan? Jawabannya akan terungkap di Amerika Utara musim panas nanti.



