Adi Hütter Kembali ke Frankfurt: Pelatih Austria yang Pernah Bawa Tim ke Semifinal Liga Europa
Baca dalam 60 detik
- Adi Hütter resmi menandatangani kontrak tiga tahun untuk kembali menukangi Eintracht Frankfurt, menggantikan Albert Riera.
- Pada periode pertamanya, Hütter membawa Frankfurt ke semifinal Liga Europa 2018/19 dan nyaris lolos ke Liga Champions.
- Setelah sukses di Monaco dengan membawa tim ke Liga Champions, Hütter kembali ke klub yang pernah ia besut.

Adi Hütter, pelatih asal Austria berusia 56 tahun, resmi kembali ke Eintracht Frankfurt dengan kontrak tiga tahun, menggantikan Albert Riera yang hengkang. Kepulangan ini terjadi lima tahun setelah ia meninggalkan klub pada 2021, setelah sebelumnya sukses membawa Die Adler ke semifinal Liga Europa dan nyaris menembus empat besar Bundesliga.
Hütter bukan nama asing di Frankfurt. Pada musim perdananya (2018/19), ia mengandalkan duet Luka Jović dan Sébastien Haller yang produktif. Timnya hanya terpaut satu poin dari zona Liga Champions, namun tampil gemilang di Liga Europa dengan menyingkirkan Lazio, Shakhtar Donetsk, Inter Milan, dan Benfica, sebelum akhirnya kalah adu penalti dari Chelsea di semifinal. Musim berikutnya, Frankfurt kembali nyaris mengalahkan Bayern Munich di semifinal DFB-Pokal. Puncaknya, di musim ketiga (2020/21), berkat ketajaman André Silva, Frankfurt finis di posisi kelima dan lolos ke Liga Europa — yang kemudian dimenangkan oleh Oliver Glasner pada musim berikutnya.
Setelah meninggalkan Frankfurt, Hütter sempat menangani Borussia Mönchengladbach selama satu musim (2021/22). Meski timnya mencatat kemenangan 5-0 atas Bayern di DFB-Pokal — kekalahan terbesar Bayern sejak 1978 — ia hanya mampu membawa Gladbach finis di peringkat kesepuluh. Ia kemudian pindah ke Monaco pada 2023. Di klub Prancis tersebut, Hütter langsung membawa perubahan drastis: setelah Monaco absen dari Eropa pada 2022/23, ia membawa tim finis kedua di Ligue 1 musim pertamanya dan lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya sejak 2018/19. Musim berikutnya, Monaco finis ketiga. Namun, awal musim 2025/26 yang berat membuatnya hengkang, dan ia kembali ke Frankfurt pada akhir Mei 2026.
Gaya melatih Hütter kerap dibandingkan dengan Thomas Tuchel. Ia dikenal fleksibel dalam formasi: di Frankfurt ia kerap menggunakan tiga bek dengan sayap murni ala Antonio Conte, sementara di Gladbach dan Monaco ia lebih sering memakai 4-2-3-1. Ciri khas timnya adalah pressing tinggi dan transisi cepat. "Saya suka tim saya bermain agresif dengan cara yang baik, proaktif, dengan ide jelas tentang cara bermain," ujarnya saat diperkenalkan sebagai pelatih Monaco pada 2023. Mantan pemain Bayern, Eric Dier, yang bermain di bawah Hütter di Monaco, memuji gaya agresifnya yang mirip dengan perannya di Bayern.
Menariknya, Hütter pernah menjadi "momok" bagi Frankfurt saat masih menjadi pemain. Pada perempat final Liga Europa 1993/94, ia mencetak satu-satunya gol di leg pertama untuk Salzburg, lalu ikut mengeksekusi penalti di leg kedua yang membuat Salzburg melaju ke semifinal — menghentikan langkah Frankfurt. Kini, ia justru kembali untuk membawa klub yang dulu ia kalahkan meraih sukses.
Direktur olahraga Frankfurt, Markus Krösche, memuji kemampuan Hütter dalam menggabungkan permainan transisi cepat dengan penguasaan bola, terutama saat menangani skuad muda di Monaco. "Adi telah menunjukkan bahwa ia bisa menggabungkan permainan transisi cepat dengan penguasaan bola — terutama di Monaco, di mana ia secara efektif mengembangkan dan menstabilkan salah satu tim termuda di liga sehingga mereka mampu bertahan di antara elit Prancis," kata Krösche. CEO Monaco, Thiago Scuro, dalam wawancara dengan L'Équipe pada 2025, menambahkan bahwa Hütter membawa klub ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam lima tahun, dengan enam pemain dari akademi dan salah satu skuad termuda di Ligue 1 dan Liga Champions.
Kembalinya Hütter ke Frankfurt membawa pertanyaan besar: mampukah ia mengulang kesuksesan seperti periode pertamanya, atau bahkan melampauinya? Dengan pengalaman di berbagai liga dan kemampuan mengembangkan pemain muda, ia memiliki modal kuat. Namun, tekanan untuk bersaing di Bundesliga yang semakin ketat dan ekspektasi tinggi dari suporter akan menjadi ujian sesungguhnya.



