Seskab Bantah Boros: Rombongan Prabowo ke Luar Negeri Dipangkas 50%
Baca dalam 60 detik
- Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengklaim jumlah rombongan Presiden Prabowo dalam kunjungan luar negeri hanya 50-60 orang, turun drastis dari era sebelumnya yang bisa mencapai 120 orang.
- Kritik Dino Patti Djalal soal pemborosan anggaran dijawab dengan data bahwa kelebihan biaya perjalanan ditanggung pribadi Presiden Prabowo, bukan APBN.
- Pemerintah menegaskan keterbukaan terhadap masukan, namun perdebatan efisiensi biaya perjalanan presiden masih menyisakan pertanyaan tentang transparansi anggaran.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7279720/original/047984000_1780065450-IMG-20260529-WA0182.jpg)
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya angkat bicara menanggapi kritik tajam mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal yang menyebut Presiden Prabowo Subianto terlalu sering bepergian ke luar negeri dengan rombongan besar yang membebani anggaran negara. Dalam klarifikasi yang disampaikan melalui video resmi Sekretariat Kabinet, Teddy justru membeberkan data bahwa jumlah rombongan Prabowo telah dipangkas lebih dari separuh dibandingkan era presiden sebelumnya.
Menurut Teddy, setiap kunjungan kenegaraan Prabowo kini hanya membawa 50 hingga 60 orang, jauh lebih sedikit dari periode sebelumnya yang bisa mencapai lebih dari 120 personel. Ia bahkan menunjukkan dokumen kunjungan Presiden RI tahun 2014 ke Lisbon, New York, Washington DC, dan Osaka yang membawa 110 orang untuk tim advance. "Zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50-60 orang maksimal," ujarnya, Senin (1/6/2026).
Kritik Dino Patti Djalal sebelumnya mencuat di publik dengan menyebut biaya perjalanan Prabowo mencapai ratusan miliar rupiah. Namun, Teddy menegaskan bahwa kelebihan biaya yang tidak tercakup dalam anggaran negara telah ditanggung sepenuhnya oleh kantong pribadi Presiden Prabowo. "Ini sudah dijelaskan beberapa kali, jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," kata Teddy.
Dalam kesempatan yang sama, Teddy juga menyentil masa jabatan Dino sebagai Wamenlu yang hanya berlangsung sekitar tiga bulan. "Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," ucapnya, sembari tetap berterima kasih atas masukan yang diberikan.
Bagi publik Indonesia, perdebatan ini menyentuh isu transparansi dan efisiensi anggaran perjalanan presiden. Meski pemerintah mengklaim telah melakukan penghematan, tidak ada data rinci yang dipublikasikan mengenai total anggaran perjalanan Prabowo secara keseluruhan. Sementara itu, Dino Patti Djalal belum memberikan tanggapan lebih lanjut atas klarifikasi Teddy.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah pemangkasan jumlah rombongan ini benar-benar berdampak signifikan pada penghematan anggaran, atau justru hanya pergeseran biaya ke pos lain. Publik tentu berharap adanya audit independen yang bisa memverifikasi klaim-klaim tersebut.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7758434/original/018903500_1780567611-WhatsApp_Image_2026-06-04_at_16.38.25.jpeg)