Backrooms Tembus Rekor: Film Horor YouTube Raup Rp1,3 Triliun di Akhir Pekan Perdana
Baca dalam 60 detik
- Adaptasi film dari serial horor YouTube Backrooms meraup US$81,5 juta pada akhir pekan debutnya di Amerika Utara, menjadi pembukaan terbesar untuk film horor orisinal.
- Sutradara berusia 20 tahun, Kane Parsons, mencatat sejarah sebagai sutradara termuda yang debut di posisi pertama box office dengan film fitur.
- Kesuksesan ini menegaskan daya tarik konten horor digital yang diadaptasi ke layar lebar, membuka peluang bagi kreator muda di industri film global.

Adaptasi layar lebar dari serial horor YouTube viral, Backrooms, mencetak sejarah baru di box office Amerika Serikat dengan pendapatan US$81,5 juta (sekitar Rp1,3 triliun) pada akhir pekan perdananya. Angka tersebut menjadikannya pembukaan terbesar yang pernah diraih oleh film horor orisinal, sekaligus melampaui rekor sebelumnya milik rumah produksi A24.
Film yang disutradarai oleh Kane Parsons, kreator berusia 20 tahun dari serial web Backrooms, langsung memuncaki tangga box office. Menurut laporan Variety, pencapaian ini juga menjadikan Parsons sebagai sutradara termuda yang berhasil debut di posisi nomor satu dengan sebuah film fitur. Sebelumnya, serial Backrooms yang dirilis pada 2022 telah menjadi fenomena di kalangan penggemar horor internet, termasuk dalam genre “creepypasta” — cerita horor pendek yang dimodifikasi dan diperkaya oleh komunitas daring.
Dibintangi oleh aktor nominasi Oscar Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve, Backrooms mengisahkan seorang pemilik toko furnitur yang menemukan kompleks labirin misterius di bawah tokonya. Ketika ia hilang, terapisnya (Reinsve) memasuki ruang liminal tersebut untuk mencarinya. Premis yang sederhana namun mencekam ini berhasil menarik perhatian penonton, terutama generasi muda yang sudah akrab dengan versi webnya.
Di posisi kedua, film horor Obsession garapan Focus Features meraup US$26,4 juta pada akhir pekan ketiganya. Dengan anggaran kurang dari US$1 juta, film ini telah mengumpulkan hampir US$150 juta secara global, berkat ulasan positif kritikus dan penonton. Sementara itu, Star Wars: The Mandalorian and Grogu dari Disney mengalami penurunan 70% di pekan kedua, hanya meraup US$25 juta dan turun ke posisi ketiga. Film ini menjadi yang pertama dalam waralaba Star Wars yang tayang di bioskop sejak 2019.
Bagi industri film Indonesia, kesuksesan Backrooms memberikan pelajaran berharga tentang potensi adaptasi konten digital. Dengan basis penggemar yang sudah terbentuk di platform seperti YouTube, film horor yang berasal dari cerita viral dapat menjadi ladang cuan yang menjanjikan. Fenomena ini juga membuka jalan bagi kreator muda Tanah Air untuk mengeksplorasi format serupa, mengingat biaya produksi yang relatif rendah dan jangkauan audiens global yang luas.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tren ini akan berkelanjutan atau hanya sekadar gelembung sesaat. Dengan makin banyaknya konten horor digital yang diadaptasi ke layar lebar, persaingan di genre ini diprediksi akan semakin ketat. Namun, satu hal yang pasti: Backrooms telah membuktikan bahwa cerita yang lahir dari internet mampu bersaing di panggung box office dunia.



