Arsenal di Persimpangan: Pertahankan Gaya Juara atau Berani Berevolusi?
Baca dalam 60 detik
- Arsenal kalah adu penalti dari PSG di final Liga Champions, dengan penguasaan bola hanya 25% sepanjang laga.
- Kritik terhadap gaya bermain pragmatis Arsenal menguat, meski mereka baru saja merebut gelar Premier League setelah 22 tahun.
- Mikel Arteta mengisyaratkan perlunya perubahan pendekatan, termasuk kemungkinan belanja pemain baru di lini depan.

Kekalahan dari Paris Saint-Germain di final Liga Champions belum lama ini membuka kembali perdebatan mengenai masa depan taktik Arsenal. Manajer Mikel Arteta kini dihadapkan pada pilihan sulit: tetap mempertahankan formula yang membawa pulang trofi Premier League atau mulai mengadopsi gaya bermain yang lebih dominan dalam penguasaan bola.
Di laga puncak yang digelar di Budapest, Arsenal hanya mampu melepaskan satu tembakan tepat sasaran sepanjang 120 menit. Statistik penguasaan bola yang timpang—25 persen berbanding 75 persen—menjadi sorotan utama. PSG menyelesaikan 885 operan, lebih dari tiga kali lipat milik Arsenal yang hanya 285 operan. Gelandang PSG, Joao Neves, bahkan menyebut timnya sebagai satu-satunya yang ingin bermain sepak bola pada malam itu.
Mantan bek Arsenal, Matthew Upson, menilai gol cepat Kai Havertz justru menjadi bumerang. "Begitu unggul, Arsenal secara alami masuk ke mode bertahan. Statistik penguasaan bola seperti itu hampir tidak pernah terjadi di final Liga Champions," ujarnya kepada BBC Sport.
Arteta sendiri mengakui keunggulan PSG. Ia menyebut Les Parisiens sebagai tim terbaik di dunia dan mengisyaratkan keinginan untuk meniru gaya mereka. "Apa yang mereka lakukan dengan bola, dengan aksi individu, belum pernah saya lihat sebelumnya," kata Arteta. Namun, ia juga menegaskan bahwa tekanan lawan memaksa timnya bermain di area yang tidak direncanakan.
Perubahan gaya sebenarnya sudah terlihat sepanjang musim. Menurut Upson, pada awal musim (Agustus-Desember) Arsenal tampil lebih atraktif dengan penguasaan bola tinggi. Namun, memasuki Januari, Arteta mulai beralih ke pendekatan yang lebih konservatif. "Itu berhasil karena mereka memenangkan Premier League," tambah Upson.
Keputusan untuk mengubah pendekatan tentu tidak mudah. Arsenal baru saja mengakhiri puasa gelar Premier League selama 22 tahun. Namun, kegagalan di dua final besar musim ini—Liga Champions dan Carabao Cup—menunjukkan bahwa tim asal London Utara itu masih memiliki celah saat berhadapan dengan lawan sekelas PSG atau Manchester City. Di final Carabao Cup, Arsenal hanya memiliki 38 persen penguasaan bola.
Untuk bersaing di level tertinggi Eropa, Upson menilai Arsenal harus lebih berani menguasai bola. "Manchester City, Bayern Munich, Atletico Madrid, Barcelona, PSG—Anda akan menghadapi dua atau tiga dari mereka di setiap turnamen. Akan sulit jika tidak memiliki sedikit lebih banyak penguasaan bola," katanya.
Arsenal dikabarkan tengah memantau Julian Alvarez, striker Atletico Madrid yang pernah bermain di Premier League bersama Manchester City. Selain itu, posisi sayap kiri juga menjadi prioritas belanja. Arteta sendiri telah memberi sinyal bahwa perubahan akan terjadi. "Kami harus melakukan yang lebih baik, menemukan margin yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang kami inginkan," ujarnya.
Pertanyaan besarnya, apakah para pemain depan Arsenal saat ini mampu beradaptasi? Upson yakin Bukayo Saka dan Leandro Trossard memiliki kualitas teknis yang dibutuhkan. Ia juga menyoroti peran bek sayap sebagai katalis serangan, seperti yang diperagakan PSG. "Mereka punya pemain bagus secara teknis, pemain level atas dengan bola," pungkasnya.
Langkah Arteta dalam bursa transfer musim panas ini akan menjadi penentu. Apakah ia akan mempertahankan formula juara yang terbukti efektif di domestik, atau berani mengambil risiko untuk tampil lebih dominan di Eropa? Jawabannya mungkin akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan.



