Netanyahu Perluas Invasi Darat ke Lebanon, Gencatan Senjata Terancam Runtuh
Baca dalam 60 detik
- Israel memerintahkan ekspansi operasi darat ke Lebanon utara, merebut Kastil Beaufort dan punggung bukit strategis.
- Lebih dari 1,2 juta warga Lebanon mengungsi dan 3.370 tewas sejak Maret, sementara Hezbollah menggunakan drone murah yang sulit dicegat.
- Langkah ini mengancam perundingan damai yang difasilitasi AS dan berpotensi memicu krisis kemanusiaan lebih luas di Timur Tengah.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan perluasan operasi darat ke wilayah Lebanon selatan, melanggar gencatan senjata yang baru disepakati enam pekan lalu. Langkah ini diambil setelah pasukan Israel merebut Kastil Beaufort—benteng berusia 900 tahun—dan punggung bukit strategis di selatan Lebanon, Sabtu (30/5). Eskalasi ini terjadi sehari setelah serangan roket dan drone Hezbollah terberat sejak April, yang memicu penutupan sekolah dan pembatasan di Israel utara.
Sejak Maret, konflik ini telah menewaskan lebih dari 3.370 orang di Lebanon, menurut pemerintah setempat, sementara Israel melaporkan 24 tentara dan empat warga sipil tewas. Lebih dari 1,2 juta warga Lebanon mengungsi akibat serangan udara dan perintah evakuasi Israel. Di sisi lain, puluhan ribu warga Israel di utara juga terusir oleh roket dan drone Hezbollah. Pertempuran ini merupakan dampak terluas dari perang Iran, dengan Hezbollah yang didukung Teheran melancarkan serangan untuk mendukung sekutunya.
Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan, "Saya memerintahkan militer untuk memperluas manuver darat di Lebanon." Tujuannya, menurut dia, adalah "memperdalam dan memperluas cengkeraman di wilayah yang dikuasai Hezbollah." Pasukan Israel kini mendorong maju ke Sungai Zaharani, sekitar 10 km di utara Sungai Litani—batas yang sebelumnya dikuasai Israel. Militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga di selatan Zaharani pada Minggu (31/5).
Serangan udara Israel pada Sabtu malam menewaskan delapan orang di desa Deir El Zahrani, demikian dilaporkan kantor berita Lebanon. Sepanjang Minggu, militer Israel melancarkan lebih dari 40 serangan di seluruh Lebanon selatan, menurut sumber keamanan Lebanon. Sementara itu, Hezbollah terus menggunakan drone kamikaze murah yang mudah dirakit dan sulit dihadang pertahanan udara Israel, yang telah menewaskan beberapa tentara Israel di Lebanon selatan.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan pasukan akan mempertahankan Kastil Beaufort sebagai bagian dari zona keamanan Israel di Lebanon selatan. "Kampanye belum berakhir. Kami semua bertekad menghancurkan kekuatan Hezbollah," ujarnya. Katz juga mengunggah foto kastil dengan bendera Israel dan brigade Golani di media sosial. Analis yang dekat dengan Hezbollah, Talal Atrissi, menilai foto itu sebagai pesan kepada masyarakat Israel bahwa militer berhasil mencapai tujuan meskipun menghadapi tantangan drone.
Eskalasi ini terjadi di tengah upaya diplomatik AS yang menjamu perwakilan pertahanan Israel dan Lebanon di Washington pada Jumat (29/5) untuk membahas rencana perdamaian dan pelucutan senjata Hezbollah. Pada 15 Mei, kedua pihak sepakat memperpanjang gencatan senjata 45 hari. Namun, seruan Prancis untuk menggelar sidang darurat Dewan Keamanan PBB pada Senin (1/6) menunjukkan kekhawatiran internasional yang meningkat.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, ketegangan di Timur Tengah kerap memicu sentimen domestik. Selain itu, Indonesia mengandalkan impor minyak dari kawasan tersebut, dan eskalasi dapat mengganggu pasokan serta harga energi. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah menyerukan penghentian kekerasan dan kembali ke meja perundingan. Namun, dengan Netanyahu yang justru memperluas operasi, prospek perdamaian semakin suram.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah komunitas internasional mampu menekan Israel untuk mematuhi gencatan senjata, atau justru konflik ini akan meluas menjadi perang regional yang melibatkan Iran dan sekutunya? Dengan lebih dari 1,2 juta pengungsi dan korban jiwa yang terus bertambah, urgensi solusi diplomatik tak pernah setinggi ini.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7644123/original/039221700_1780434780-00face8d-f82e-4eae-8810-216916d1d6de.jpeg)

