FIFA Larang 'Taktik Timeout' Kiper di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- FIFA melarang pemain mendekati bench pelatih saat kiper cedera untuk mencegah penyalahgunaan waktu istirahat taktis.
- Aturan baru juga memungkinkan VAR meninjau pelanggaran sebelum tendangan sudut yang berujung gol.
- Piala Dunia 2026 akan menerapkan batas waktu ketat untuk lemparan ke dalam, tendangan gawang, dan pergantian pemain.

FIFA secara resmi melarang praktik yang dikenal sebagai 'goalkeeper tactical timeout' pada Piala Dunia 2026, menyusul kekhawatiran bahwa kiper sering berpura-pura cedera untuk memberikan kesempatan bagi rekan setimnya berkonsultasi dengan pelatih. Kepala wasit FIFA Pierluigi Collina menegaskan bahwa aturan baru ini bertujuan mengembalikan integritas pertandingan dan mencegah taktik menghambat tempo permainan.
Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena ini menjadi sorotan. Seorang kiper tiba-tiba jatuh dan memanggil fisioterapis, sementara pemain lain berlari ke pinggir lapangan untuk mendengar instruksi pelatih. Begitu arahan selesai, kiper pun bangkit dan permainan dilanjutkan. Pada November lalu, pelatih Leeds United Daniel Farke menuduh kiper Manchester City Gianluigi Donnarumma melakukan hal tersebut untuk 'membengkokkan aturan'. Collina menegaskan bahwa wasit akan bersikap proaktif: pemain tidak diizinkan meninggalkan lapangan saat kiper cedera, meskipun kiper sendiri berhak mendapatkan perawatan.
Langkah ini mengadopsi kebijakan yang diterapkan National Women's Soccer League (NWSL) Amerika Serikat, di mana saat kiper cedera, pemain kedua tim harus tetap di tempat atau berkumpul di lingkaran tengah. Namun, Collina mengakui bahwa aturan ini hanya menyelesaikan sebagian masalah—tidak menghentikan penggunaan taktik semata-mata untuk memutus momentum lawan. Untuk mengantisipasi hal itu, FIFA telah menyediakan waktu istirahat hidrasi tiga menit di setiap babak, yang secara alami memberi jeda bagi pelatih.
Selain larangan timeout kiper, FIFA juga mendapatkan persetujuan dari International Football Association Board (IFAB) untuk memperluas kewenangan VAR. Kini, wasit video dapat meninjau pelanggaran ofensif yang terjadi sebelum bola dimainkan dari tendangan sudut, tendangan bebas, atau lemparan ke dalam—asalkan pelanggaran tersebut berdampak langsung pada terciptanya gol, penalti, atau sanksi disiplin. Collina mencontohkan gol Inggris ke gawang Uruguay pada Maret lalu, di mana Adam Wharton memblok lari Jose Maria Gimenez sebelum tendangan sudut diambil. Dengan aturan baru, VAR dapat menyarankan pengulangan tendangan sudut karena pelanggaran tersebut. "Kami yakin tidak ada yang bisa keberatan," ujar Collina.
Perubahan besar lainnya mencakup penerapan batas waktu ketat untuk mempercepat permainan. Lemparan ke dalam dan tendangan gawang harus dilakukan dalam lima detik; jika sengaja ditunda, bola akan diberikan kepada lawan. Pergantian pemain dibatasi sepuluh detik untuk pemain yang keluar, dan jika terlambat, pemain pengganti harus menunggu satu menit. Pemain yang mendapat perawatan fisioterapis harus meninggalkan lapangan selama 60 detik, dengan pengecualian untuk kiper dan cedera serius. Collina berharap aturan ini mengurangi waktu tambahan yang panjang seperti pada Piala Dunia 2022.
Bagi pecinta sepak bola Indonesia, perubahan ini relevan mengingat banyak pemain dan pelatih Tanah Air yang mengikuti perkembangan taktik global. Liga Indonesia kerap menghadapi masalah serupa, seperti pemborosan waktu yang mengganggu ritme pertandingan. Penerapan aturan serupa di level domestik dapat meningkatkan kualitas kompetisi dan mengurangi kontroversi. Selain itu, perluasan wewenang VAR memberikan preseden bagi penggunaan teknologi wasit yang lebih adil, meskipun implementasinya di Indonesia masih terbatas.
Collina juga mengingatkan bahwa wasit akan dibekali data taktik tim untuk memantau grappling di area penalti. Dengan serangkaian perubahan ini, FIFA berharap Piala Dunia 2026 berlangsung lebih dinamis, minim gangguan, dan menjunjung tinggi sportivitas. Pertanyaannya, mampukah wasit menerapkan semua aturan baru ini secara konsisten di tengah tekanan pertandingan?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7591053/original/027682300_1780373467-Media_2.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567086/original/026450800_1777264795-caraka.jpg)
