Pulisic Akui Musim Sulit di Milan: Kering Gol, Manajemen Bubar
Baca dalam 60 detik
- Christian Pulisic belum mencetak gol sejak Desember 2025, baik untuk AC Milan maupun timnas AS, setelah awal musim yang gemilang.
- Kegagalan Milan lolos ke Liga Champions pada hari terakhir Serie A memicu pemecatan Allegri dan tiga petinggi klub lainnya.
- Pulisic tetap optimistis dapat mengakhiri paceklik gol dengan pendekatan latihan yang konsisten, merujuk pada pengalaman serupa di masa lalu.

Christian Pulisic mengakui bahwa paruh kedua musim 2025-26 menjadi periode yang berat, baik secara pribadi maupun kolektif di AC Milan. Penyerang asal Amerika Serikat itu belum juga mencetak gol sejak Desember lalu, namun ia yakin tren negatif tersebut akan segera berakhir.
Pulisic memulai musim dengan performa memukau: empat gol dan dua assist dalam enam laga perdana Serie A. Hingga akhir tahun, koleksinya sudah mencapai delapan gol. Namun setelah itu, mantan pemain Chelsea itu tak mampu lagi menjebol gawang lawan, baik untuk klub maupun tim nasional.
Kemandekan individu ini beriringan dengan ambruknya performa Milan secara tim. Rossoneri yang sempat duduk di posisi kedua klasemen justru terlempar ke peringkat kelima pada hari terakhir Serie A, gagal total merebut tiket Liga Champions. Kekecewaan itu berujung pada pemecatan besar-besaran: pelatih Massimiliano Allegri, direktur olahraga Igli Tare, direktur teknis Geoffrey Moncada, dan CEO Giorgio Furlani dipecat sehari setelah musim berakhir.
Dalam wawancara dengan ESPN, Pulisic menolak menyalahkan pihak lain. βSaya tidak mencoba mencari kambing hitam. Ada momen di mana saya bisa tampil lebih baik. Ini masa sulit bagi tim dan bagi saya,β ujarnya. Ia menegaskan tidak mengubah metode latihan atau persiapan, dan tetap percaya diri dengan proses yang dijalani.
Pemain berusia 27 tahun itu juga tidak khawatir dengan paceklik gol yang sudah berlangsung lebih dari lima bulan. βSaya pernah mengalami ini sebelumnya. Kadang bola memantul dari lutut lalu masuk, dan setelah itu semuanya seperti masuk,β katanya, merujuk pada pengalaman serupa di masa lalu.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Pulisic menjadi pengingat betapa rentannya karier pesepak bola top. Performa individu yang cemerlang di awal musim bisa luntur jika tim mengalami krisis. Milan yang kehilangan banyak figur kunci di manajemen kini harus membangun ulang fondasi. Pertanyaan besarnya: mampukah Pulisic bangkit di musim depan bersama skuad yang kemungkinan besar akan banyak berubah?



