Krisis Pembibitan: Italia Kehilangan Lebih dari Separuh Pemain Potensial Timnas
Baca dalam 60 detik
- Presiden Lega Serie A mengungkapkan jumlah pemain yang layak dipanggil timnas Italia turun drastis dari 400 pada 2006 menjadi hanya 190 saat ini.
- Daerah tradisional penghasil pemain seperti Sisilia dan Calabria kini nyaris tidak menyumbang talenta ke liga top Eropa.
- Rekomendasi Roberto Baggio untuk investasi akademi di daerah-daerah tersebut diabaikan, memperparah krisis regenerasi sepak bola Italia.

Jumlah pemain Italia yang layak membela tim nasional menyusut lebih dari separuh dalam dua dekade terakhir, sebuah sinyal bahaya yang menurut Presiden Lega Serie A, Ezio Maria Simonelli, menjadi akar kegagalan Azzurri di pentas dunia. Dalam pidatonya di konvensi Sport and Finance, Simonelli mengungkapkan bahwa pada 2006—tahun terakhir Italia meraih Piala Dunia—terdapat sekitar 400 pemain yang bisa dipanggil, namun kini hanya tersisa 190 orang.
Penurunan drastis ini menjelaskan mengapa Italia, yang pernah empat kali menjadi juara dunia, gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia berturut-turut. Simonelli menekankan bahwa masalahnya bukan sekadar performa di lapangan, melainkan kegagalan sistem pembinaan usia muda. “Kami memulai dengan opsi 50 persen lebih sedikit,” ujarnya, menyoroti bahwa basis pemain yang sempit membuat pelatih timnas kesulitan meramu skuad kompetitif.
Fenomena ini paling terasa di daerah-daerah yang dulu menjadi lumbung pemain. Sisilia, pulau dengan 4,7 juta penduduk, hanya menyumbang satu pemain di lima liga top Eropa. Calabria dengan 1,8 juta jiwa juga mengalami nasib serupa. Simonelli mempertanyakan, “Mungkinkah wilayah padat penduduk seperti ini hanya menghasilkan satu persen pemain?” Angka tersebut menunjukkan bahwa sepak bola jalanan yang dulu subur kini nyaris mati.
Krisis ini sebenarnya sudah lama diperingatkan. Legenda sepak bola Italia, Roberto Baggio, pernah menyusun sebuah dokumen berisi rekomendasi untuk mendirikan akademi federasi di daerah-daerah yang secara tradisional menjadi tempat anak-anak bermain bola. Namun, menurut Simonelli, usulan tersebut “sebagian besar diabaikan” dan masalah terus memburuk seiring waktu. Tanpa investasi serius di akar rumput, Italia kehilangan generasi pemain berbakat yang dulu muncul dari jalanan.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi pelajaran berharga. Sepak bola Indonesia juga bergantung pada pembibitan di daerah-daerah seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Barat. Jika tidak ada perhatian terhadap infrastruktur dan kompetisi usia muda, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami nasib serupa: kekurangan pemain berkualitas di level internasional. Regenerasi pemain harus dimulai dari bawah, bukan hanya mengandalkan naturalisasi.
Simonelli menegaskan bahwa pemulihan finansial sepak bola Italia tidak akan terjadi tanpa revitalisasi sektor pembibitan. “Sampai kami meluncurkan kembali sepak bola Italia, akan sulit meluncurkan kembali sisi keuangan olahraga ini,” katanya. Pertanyaannya, akankah federasi dan klub-klub Serie A segera bertindak, atau membiarkan krisis ini semakin dalam?



