Final Piala FA Wanita: Dario Vidosic Berjuang untuk Ayah yang Telah Tiada
Baca dalam 60 detik
- Manajer Brighton Dario Vidosic akan memimpin timnya di final Piala FA Wanita melawan Manchester City, hanya beberapa bulan setelah kepergian ayahnya, Rado Vidosic.
- Rado, yang merupakan kepala pelatih wanita dan gadis Brighton, meninggal pada Januari lalu setelah berjuang melawan kanker, meninggalkan warisan yang mendalam bagi klub.
- Kemenangan di Wembley tidak hanya akan menjadi trofi pertama Brighton, tetapi juga penghormatan bagi Rado yang telah membangun fondasi kesuksesan tim.

Ketika Brighton & Hove Albion wanita melangkah ke lapangan Wembley pada Minggu (15:00 BST) untuk menghadapi Manchester City di final Piala FA Wanita, pertandingan itu bukan sekadar perburuan trofi perdana. Lebih dari itu, laga ini menjadi panggung emosional bagi manajer Dario Vidosic, yang masih berduka atas kepergian ayahnya, Rado Vidosic, pada Januari lalu setelah berjuang melawan kanker.
Rado, yang menjabat sebagai kepala pelatih wanita dan gadis Brighton, meninggal di usia 64 tahun. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam di klub, hingga Dario harus mengambil cuti selama sebulan dari kompetisi Women's Super League (WSL). Namun, sejak kembali pada Februari, ia berhasil membangkitkan semangat tim. Brighton finis di peringkat ketujuh klasemen dan untuk pertama kalinya dalam sejarah menembus final Piala FA.
"Sepak bola menghubungkan banyak orang sepanjang hidup. Anda menciptakan kenangan indah, dan ini akan menjadi hari yang menyenangkan," ujar Dario kepada BBC Sport. "Saya membawa ayah setiap hari ke setiap pertandingan. Saya memikirkan apa yang akan ia katakan dan apa yang saya pelajari dari catatan-catatannya saat menjadi pelatih. Saya tahu ia akan bersama kami, seperti yang selalu ia lakukan di setiap laga."
Kisah Dario dan Rado adalah warisan sepak bola keluarga. Dario lahir di Kroasia ketika negara itu masih bagian dari Yugoslavia, namun pindah ke Australia setahun kemudian saat Rado bermain untuk Queensland Lions. Ia mengikuti jejak sang ayah menjadi pemain profesional, membela timnas Australia, sebelum beralih ke dunia kepelatihan. "Sejak kecil, semuanya tentang ayah. Saat ia bermain, saya menonton. Saya sering berada di lapangan belakang bersama anak-anak lain. Kami selalu bersama di klub komunitas Kroasia," kenang Dario.
Transisi Dario ke kepelatihan terasa alami. Ia bergabung sebagai asisten Rado di Melbourne City, lalu mengambil alih tim wanita pada 2022 saat sang ayah pindah ke tim pria. Dua tahun kemudian, ia pindah ke Brighton. Di WSL, ia berhasil mempersempit jarak dengan empat besar. "Ayah memengaruhi apa yang kami lakukan sekarang. Banyak ide yang kami kerjakan bersama, bahkan saat saya masih asistennya di Melbourne," kata Dario.
Di sisi lain lapangan, Manchester City datang sebagai juara WSL dan mengincar gelar ganda. Namun, Brighton bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Klub terus meningkatkan investasi pada tim wanita, termasuk pindah ke pusat latihan American Express Elite Football Performance Centre senilai Β£8,5 juta pada 2021. Bulan lalu, mereka mengumumkan rencana membangun stadion khusus wanita pertama di Eropa dengan biaya Β£75-80 juta.
Penyerang Fran Kirby, yang lima kali juara Piala FA bersama Chelsea, berharap penampilan timnya bisa menghormati jasa Rado. "Saya yakin tidak ada yang lebih bangga dari Rado melihat Dario mencapai final. Kami benar-benar ingin menghormatinya dan kerja kerasnya di sini. Kepergiannya meninggalkan jejak besar di tim, dan bisa sampai ke Wembley adalah kredit bagi staf pelatih yang mampu mengesampingkan emosi," ujar Kirby.
Madison Haley, pencetak gol kemenangan dramatis 3-2 atas Liverpool di semifinal, menambahkan, "Kemenangan akan sangat spesial bagi keluarga Vidosic, tapi Dario bukan tipe orang yang menjadikan segalanya tentang dirinya. Ini pasti ada di pikiran kami. Kami semua ingin membuat Rado bangga. Saya pikir ia ingin kami memberikan segalanya dan menyelesaikannya."
Bagi Dario, sepak bola kini memiliki makna baru. "Saya menikmatinya dengan cara berbeda. Minggu ini saya pergi ke latihan putra saya. Sore yang indah. Itu momen untuk melepaskan diri, meski tidak sepenuhnya lepas dari sepak bola. Keluarga memberi perspektif yang indah di luar permainan," tutupnya. Akankah Brighton mampu mewujudkan dongeng di Wembley? Atau justru City yang akan memastikan dominasi ganda mereka?



